__________________________________________________________________________________

| Nawawi | Aqeedah | Fiqh | Anti Syirik | Galeri Buku | Galeri MP3 | U-VideOo |
__________________________________________________________________________________

Monday, July 2, 2007

ISU 13 - Hukum Perbuatan Demonstrasi (Tunjuk Perasaan) Menurut Ahlus Sunnah

Menyingkapi Perlakuan Demonstrasi Dari Kaca Mata Ahlus Sunnah

Download kuliah – “Menggugat Perlakuan Demonstrasi”

DEMONSTRASI

Tunjuk perasaan atau demonstrasi adalah perbuatan yang bertentangan dengan syariat Allah Azza wa-Jalla. Ia pada hakikatnya telah dipelopori oleh individu-individu yang mempunyai tujuan dan matlamat tertentu. Timbulnya semangat dan bahang untuk berdemontrasi kerana ada pencetus yang menghasut.

Walaupun demonstrasi dianggap sebagai ungkapan hati nurani rakyat yang terjadi di semua negara termasuk negara Islam, namun ia tidak dapat diterima oleh hati nurani yang sihat dan beriman. Kerana pada kebiasaanya demonstrasi didalangi oleh pihak-pihak tertentu sebagai satu cara untuk mencapai rancangan atau konspirasi mereka.

Demonstrasi hanya dipertahankan dan didukung mati-matian sehingga dianggap sebagai jihad oleh mereka yang jahil terhadap syariat dan agamanya.

Para a’immah as-salaf as-Soleh (para imam/ulama kurun terawal) telah mengharamkan perbuatan demonstrasi yang terkutuk ini, kerana ia menganggu ketentaraman awam malah mencemarkan nama dan dakwah Islam yang sewajarnya dijalankan dengan hikmah. Oleh itu, demonstrasi adalah merupakan suatu bid’ah yang sesat yang wajib dijauhi oleh setiap orang yang beriman kepada Allah dan kesucian agama Islam.

DEMONSTRASI PERTAMA DALAM SEJARAH ISLAM

Setelah timbulnya pemikiran dan firqah Khawarij sehingga terjadinya pemberontakan serta kejadian terbunuhnya Uthman bin ‘Affan radiallahu ‘anhu, ia sangat erat hubungannya dengan demonstrasi. Kronologis kisah terbunuhnya Uthman radhiyallahu ‘anhu, ia dirancang oleh golongan Khawarij, dengannya bermula tersebarnya isu-isu fitnah yang dilontarkan kepada Khalifah Uthman yang ditaja dan disebarkan di kalangan kaum muslimin oleh seorang pendita Yahudi bernama Abdullah bin Saba’.

Abdullah bin Saba’ berpura-pura masuk Islam (secara nifak) untuk menipu dan memerangkap umat Islam dalam segala bentuk fitnah. Sememangnya Yahudi amat memusuhi agama Islam dan kaum muslimin. Sikap Yahudi telah dikhabarkan oleh Allah Azza wa-Jalla melalui firmanNya:

لَتَجِدَنَّ اَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِيْنَ آمَنُوا الْيَهُوْدُ وَالَّذِيْنَ اَشْرَكُوْا.

“Nescaya engkau akan dapati orang yang paling memusuhi (murka) kepada orang-orang yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrikin.” (Surah al-Maidah, 5: 82)

Permusuhan kaum Yahudi bermula sejak berkembangnya Islam, seperti mengkhianati perjanjian mereka terhadap Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam, merendahkan kaum muslimin, mencerca ajaran Islam dan banyak lagi makar-makar (tipu helah) busuk mereka. Namun setelah Islam kuat, tersingkirlah mereka dari Madinah. (Lihat: Sirah Ibnu Hisyam, juz 3. Hal. 191-199)

Pada zaman Abu Bakar dan Umar radiyallahu ‘anhuma, suara orang-orang Yahudi hampir hilang, bahkan Umar mengusir mereka dari Jazirah Arab sebagai merealisasikan perintah Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa-salam yang pernah bersabda:

لاُخْرِجَنَّ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى مِنْ جَزِيْرَةِ الْعَرَبِ حَتَّى لاَ اَدَعَ فِيْهَا اِلاَّ مُسْلِمًا.

“Sungguh akan aku keluarkan orang-orang Yahudi dan Nasara dari Jazirah Arab sehingga aku tidak sisakan (tinggalkan) padanya kecuali orang muslim. Juga sabda baginda: “keluarkanlah orang-orang musyrikin dari Jazirah Arab!”. (H/R. Bukhari)

Di tahun-tahun terakhir kekhalifahan Uthman radiyallahu ‘anhu, di waktu kondisi masyarakat mulai heterogen (kemasukan berbagai bangsa), banyak mualaf dan orang awam yang masih belum mendalam keimanan dan ilmunya, maka orang-orang Yahudi mula mengambil kesempatan untuk menyebarkan fitnah. Mereka berpenampilan sebagai muslim (tetapi secara nifak), antara mereka adalah Abdullah bin Saba’ yang diberi julukan Ibnu Sauda.

Abdullah bin Saba’ berasal dari Shan’a. Dialah yang menaburkan benih-benih fitnah di kalangan kaum muslimin agar mereka iri hati dan benci kepada Uthman radiyallahu ‘anhu. Sedangkan inti dari apa yang dia bawa adalah pemikiran-pemikiran peribadinya yang bernafaskan Yahudi. Contohnya adalah kiasnya yang batil tentang kewalian Ali radiyallahu ‘anhu. Dia berkata:

“Sesungguhnya telah ada seribu nabi dan setiap nabi mempunyai wali. Sedangkan Ali adalah walinya Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kemudian dia berkata dan terus menabur fitnah:

“Muhammad adalah penutup para nabi sedangkan Ali adalah penutup para wali.”

Tatkala tertanam pemikiran ini dalam jiwa para pengikutnya, mulailah dia menerapkan tujuan utamanya iaitu melakukan pemberontakan terhadap kekhalifahan Uthman bin ‘Affan radiyallahu ‘anhu. Maka dia melemparkan pernyataan pada masyarakat yang bunyinya:

“Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang tidak layak mendapatkan wasiat Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam (kewalian rasul), kemudian dia melampaui wali Rasulullah (iaitu Ali) dan merampas urusan umat (pemerintahan)!”

Setelah itu dia (Abdullah bin Saba’) terus mengeluarkan pembohongan (fitnah):

“Sesungguhnya Uthman mengambil kewalian (pemerintahan) yang bukan haknya, sedang wali Rasulullah ini (Ali) ada (di kalangan kamu). Maka bangkitlah kamu dan bergeraklah. Mulailah untuk mencerca pegawai kamu, nampakkan amar makruf nahi mungkar. Nescaya manusia serentak bangun dan ajaklah mereka kepada perkara ini.” (Lihat: Tarikh ar-Rasul juz. 4 hal. 340 ath-Thabari melalui Mawaqif..)

Amar makruf nahi mungkar ala Sabaiyah ini sama modelnya dengan amar makruf menurut Khawarij, iaitu keluar dari pemerintahan kemudian memberontak, memperingatkan kesalahan pemerintahan di atas mimbar-mimbar, forum-forum awam dan demonstrasi-demonstrasi yang semua ini mengakibatkan timbulnya fitnah. Masalah pun bukan semakin reda, bahkan tambah menyala-nyala. Fakta sejarah telah membuktikan hal ini. Amar makruf nahi mungkar ala Sabaiyah dan Khawarij ini mengakibatkan terbunuhnya Khalifah Uthman bin ‘Affan radiyallahu ‘anhu. Peperangan sesama kaum muslimin dan terbukanya pintu fitnah berterusan dari zaman Khalifah Uthman sampai kezaman kekhalifahan Ali bin Abi Talib radiyallahu ‘anhu. (Lihat: Tahqiq Mawaqif ash-Syahabati fil Fitnati min Riwayat al-Imam ath-Thabari wal Muhaddisin juz 2 hal 342)

Sebenarnya amar makruf nahi mungkar yang mereka gembar-gemborkan hanyalah sebagai label dan perisai belaka tiada keikhlasan padanya. Buktinya Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam bersabda kepada Uthman:

“Hai Uthman! Nanti sepeninggalanku Allah akan memakaikan pakaian padamu. Jika orang-orang ingin mencelakakanmu pada waktu malam (di riwayat lain): Orang-orang munafiq ingin melepaskannya, maka jangan engkau lepaskan. (Beliau mengucapkannya tiga kali).” (H/R. Ahmad dalam Musnad juz 6 hal 75. at-Tirmizi di dalam Sunan-nya dan disahihkan oleh Syeikh al-Albani dalam Sahih Sunan at-Turmizi)

Syeikh Muhammad Amhazurn berkomentar: “Hadis ini menunjukkan dengan jelas bahawa orang Khawarij tidaklah menuntut keadilan dan kebenaran, akan tetapi mereka adalah kaum yang dihinggapi penyakit nifaq sehingga mereka bersembunyi di balik tabir syiar perdamaian dan amar makruf nahi mungkar. Tidak diketahui di satu zaman pun adanya suatu jamaah atau kelompok yang lebih berbahaya bagi agama Islam dan kaum muslimin daripada orang-orang munafiq.”

Inilah hakikat amar makruf nahi mungkar kaum Sabaiyah dan Khawarij. Alangkah serupanya kejadian dulu dan sekarang!

Di zaman ini ternyata ada Khawarij gaya baru, iaitu orang-orang yang mempunyai pemikiran khawarij. Mereka menjadikan demonstrasi, tunjuk perasaan dan sebagai alat dan metod dakwah serta jihad. Di antara tokoh-tokoh mereka adalah Abdul Rahman Abdul Khaliq (seorang pendukung gerakan Ikhwanul Muslimin), pengikut dan yang sefahaman dengannya yang mengatakan (dalam al-Fusul minas Siyasah asy-Syariyah): “Termasuklah metod atau cara Nabi salallahu ‘alaihi wa-sallam dalam berdakwah adalah demonstrasi atau tunjuk perasaan.”

Sebelum membongkar kebatilan ucapan Abdul Rahman Abdul Khaliq ini dan kesesatan manhaj Khawarij dalam beramar makruf nahi mungkar kepada pemerintah, marilah kita pelajari dan fahami manhaj Salaf as Soleh dalam perkara ini.

Manhaj Salaf as-Soleh (Golongan Soleh Kurun Terawal) Beramar Makruf Nahi Mungkar Kepada Pemerintah

Allah adalah Tuhan yang Maha Adil. Dia akan memberikan kepada orang-orang yang beriman seorang pemimpin yang arif dan bijaksana. Sebaliknya dia akan menjadikan bagi rakyat yang derhaka seorang pemimpin yang zalim. Maka jika terjadi pada suatu masyarakat seorang pemimpin yang zalim, sesungguhnya kezaliman tersebut dimulai dari rakyatnya. Meskipun demikian apabila rakyat dipimpin oleh seorang penguasa yang melakukan kemaksiatan dan penyelisihan/penentangan (terhadap syariat) yang tidak mengakibatkan ia kufur dan terkeluar dari Islam, maka tetap wajib bagi rakyat untuk menasihati dengan cara yang sesuai dengan syariat. Bukan dengan ucapan yang kasar lalu dilemparkan di tempat-tempat umum (khalayak ramai), apatah lagi mengkhabarkan dan membuka aib pemerintah, yang semua ini dapat menimbulkan fitnah yang lebih besar lagi dari permasalahan yang mereka tuntut.

Adapun dasar memberikan nasihat kepada pemerintah dengan sembunyi-sembunyi adalah hadis Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam:

“Barangsiapa yang ingin menasihati pemerintah dengan suatu perkara; Maka janganlah ia paparkan di khalayak ramai. Akan tetapi hendaklah ia mengambil tangan penguasa dengan empat mata. Jika ia menerima, maka itu (yang diinginkan) dan kalau tidak, maka sungguh dia telah menyampaikan nasihat kepadanya. Dosa bagi dia dan pahala baginya (orang yang menasihati).”

Hadis ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad al-Khaitysami dalam al-Majma’, Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah. Hadis ini banyak yang meriwayatkannya sehingga kedudukannya sahih bukan hasan, apalagi dhaif sebagaimana sebahagian ulama menyatakannya. Demikian keterangan Syeikh Abdullah bin Barjas bin Nashir Ali Abdul Karim. (Lihat: Muamalatul Hukam fi Dhauil Kitab was-Sunnah, hlm. 54)

Dan Syeikh al-Albani mensahihkannya dalam Dilalul Jannah fi Takhriji Sunnah. Hadis ini adalah pokok dasar dalam menasihati pemerintah. Orang yang menasihati jika sudah melaksanakan cara ini, maka dia telah berlepas diri (dari dosa) dan pertanggungan jawaban. Demikian dijelaskan oleh Syeikh Abdus Salam bin Barjas.

Bertolak dari hadis yang agung ini, para ulama salaf berkata dan bertindak sesuai dengan kandungan hadis ini. Antara mereka adalah Imam asy-Syaukani rahimahullah yang berkata:

“Bagi orang-orang yang ingin menasihati imam (pemimpin) dalam beberapa masalah (lantaran pemimpin itu telah berbuat salah), seharusnya ia tidak mengeluarkan kata-kata yang buruk di hadapan khalayak ramai. Tetapi sebagaimana dalam hadis di atas, bahawa seorang tadi mengambil tangan imam dan berbicara empat mata dengannya, kemudian menasihatinya tanpa merendahkan penguasa Allah”.

Kami telah menyebutkan pada awal kitab as-Sir:

“Bahawasanya tidak boleh memberontak terhadap pemimpin walaupun kezalimannya sehingga puncak kezaliman apapun, selama mereka menegakkan solat dan tidak terlihat kekufuran yang nyata dari mereka”.

Hadis-hadis dalam masalah ini mutawatir, akan tetapi wajib atas rakyat mentaati imam (pemimpin) dalam ketaatan kepada Allah dan tidak mentaatinya dalam maksiat kepada Allah. Kerana sesungguhnya menurut hadis sahih:

“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (as-Sailul Jarar)

Imam at-Tirmizi membawakan sanadnya sampai kepada Ziyad bin Kusaib al-Adawi. Beliau berkata:

“Aku di samping Abu Bakrah, berada di bawah mimbar Ibnu Amir. Sementara itu Ibnu Amir sedang berkhutbah dengan mengenakan pakaian nipis. Maka Abu Bilal berkata: Lihatlah pemimpin kita, dia memakai pakaian orang fasik. Lantas Abu Bakrah berkata: Diam kamu! Aku pernah mendengar Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam bersabda: Barangsiapa yang menghina (merendahkan) penguasa yang ditunjuk Allah di muka bumi, maka Allah akan menghinakannya.” (Sunnan at-Turmizi No. 2224)

Syeikh Muhammad bin Soleh al-Uthaimin rahimahullah menjelaskan tata cara menasihati seorang pemimpin sebagaimana yang dikatakan oleh Imam asy-Syaukani rahimahullah sampai pada perkataannya:

“…Sesungguhnya sesiapa yang menentang pemimpin dalam perkara yang bukan prinsip dalam agama dengan terang-terangan dan mengingkarinya di perkumpulan-perkumpulan masjid, tempat-tempat kajian (tempat berucap/kuliah) dan sebagainya, itu semua sama sekali bukan tata cara menasihati. Oleh kerana itu, jangan engkau tertipu dengan orang yang melakukannya, walaupun timbul dari niat yang baik. Hal ini menyalahi cara Salaf as-Soleh yang harus diikuti. Semoga Allah memberi hidayah padamu.” (Maqasidul Islam. Hlm. 395).

Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid, bahawasanya beliau ditanya: “Mengapa engkau tidak menghadap Uthman untuk menasihatinya?” Maka jawab beliau:

“Apakah kamu berpendapat semua nasihatku kepadanya itu harus diperdengarkan kepada kamu? Demi Allah! Sesungguhnya aku telah menasihatinya hanya antara aku dan dia. Dan aku tidak ingin menjadi orang pertama yang membuka pintu (fitnah) ini." (H/R. Bukhari)

Syeikh al-Albani mengomentari riwayat ini dengan ucapannya:

“Yang beliau (Usamah bin Zaid) maksudkan adalah (tidak melakukannya - pent.) terang-terangan di hadapan khalayak ramai dalam mengingkari pemerintah. Kerana pengingkaran terang-terangan boleh berakibat yang sangat membimbangkan. Sebagaimana pengingkaran secara terang-terangan kepada Uthman mengakibatkan kematian beliau.”

Demikian metod atau manhaj Salaf as-Soleh dalam amar makruf nahi mungkar kepada pemerintah atau yang mempunyai kekuasaan. Dengan demikian batallah manhaj Khawarij yang mengatakan bahawa demonstrasi termasuk suatu cara untuk berdakwah, sebagaimana yang diangap oleh Abdul Rahman Abdul Khaliq dan yang sefahaman dengannya.

Manhaj Khawarij ini menjadi salah satu sebab kejinya sifat orang-orang khawarij. Sebagaimana dalam riwayat Said Bin Jahman radiyallahu ‘anhu beliau berkata:

“Aku datang kepada Abdullah bin Abu Aufa, beliau matanya buta, aku mengucapkan salam. Beliau bertanya kepadaku: Siapa engkau? Said bin Jahman, jawabku. Beliau bertanya: Kenapa ayahmu? Aku katakan: Al-Azariqah telah membunuhnya. Beliau berkata: Semoga Allah melaknat al-Azariqah, semoga Allah melaknat al-Azariqah. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahawa mereka anjing-anjing neraka. Aku bertanya: (Yang dilaknat sebagai anjing-anjing neraka) al-Azariqah sahaja atau Khawarij semuanya? Aku katakan: Beliau menjawab: Ya! Khawarij semuanya. Aku katakan: Tetapi sesungguhnya pemerintah (telah) berbuat kezaliman kepada rakyatnya? Maka beliau mengambil tanganku dan memegang dengan sangat kuat, kemudian berkata: Celaka engkau wahai Ibnu Jahman! Wajib atasmu berpegang dengan sawadul a’dham, wajib atasmu untuk berpegang dengan sawadul a’dham. Jika kau ingin pemerintah mahu mendengar nasihatmu, maka datangilah dan khabarkan apa yang engkau ketahui. Itu kalau dia menerima, kalau tidak, tinggalkan! Sesungguhnya engkau tidak lebih tahu darinya.” (H/R. Ahmad)

Dan masih banyak lagi hadis-hadis mengenai celaan Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam terhadap orang-orang Khawarij sebagai anjing-anjing neraka, kerana perbuatan mereka sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.

Oleh kerana itu, bagi seorang muslim yang masih mempunyai akal yang sihat, tidak mungkin dia akan rela dirinya terjatuh pada jurang kenistaan seperti yang digambarkan oleh Rasulullah sallallahua ‘alaihi wa sallam (sebagai anjing neraka) terhadap Khawarij. Maka wajib bagi kita apabila hendak menasihati pemerintah, hendaklah dengan metod salaf yang jelas menghasilkan akibat yang lebih baik dan tidak menimbulkan perpecahan antara rakyat (sebagaimana akibat mengadakan demonstrasi) dengan pihak pemerintah yang akhirnya akan membawa kepada kerugian dikedua-dua belah pihak.

Berdemonstrasi Menyerupai Orang-Orang Kafir

Adalah sangat dikesalkan di mana para pen-demonstrasi ini adalah dari aktivis-aktivis Islam. Tetapi mengapa mereka melakukan hal ini? Mana ciri-ciri Islam mereka? Atas dasar apa mereka melakukannya? Apakah berdasarkan syubhat (kekaburan/kecelaruan pemahaman)? Atau mereka (penunjuk perasaan) yang beragama Islam tidak sedar bahawa mereka telah melakukan perbuatan yang dilarang oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam junjungan mereka, kerana perbuatan tersebut menyerupai orang-orang kafir. Baginda sallallahu ‘alaihi wa-sallam mengkhabarkan:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka mereka termasuk kaum tersebut.”

Perbuatan demonstrasi ini adalah termasuk bentuk tasyabbuh terhadap orang kafir. Telah diterangkan oleh Syeikh al-Albani rahimahullah tatkala seorang bertanya kepada beliau yang pertanyaannya berbunyi demikian:

“Apa hukumnya demonstrasi/tunjuk perasaan, misalnya para remaja lelaki ataupun perempuan keluar ke jalan-jalan? Beliau bertanya: Para perempuan juga? Penanya menjawab: Benar! Sungguh ini benar telah terjadi. Syeikh berkata: Masya Allah. Penanya berkata: Mereka keluar ke jalan-jalan dalam rangka menentang sebahagian permasalahan yang dituntut atau diperintahkan oleh orang yang mereka anggap taghut-taghut atau apa yang mereka tuntut dari parti-parti politik yang bertentangan dengan mereka. Apa hukumnya perbuatan ini? Syeikh menjawab: Aku katakan –wabillahi taufiq- jawaban dari soalan ini termasuk pada kaedah dalam sabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam yang dikeluarkan oleh Abu Daud di dalam Sunnannya. Rasulullah sallallahu ‘alaih wa sallam bersabda:

“Aku diutus dengan pedang diketika hampirnya Hari Kiamat sehinggalah hanya Allah-lah yang disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan Allah menjadikan rezekiku di bawah naungan tombak, dijadikan kerendahan dan kekerdilan atas orang yang menentang pemerintah. Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum mereka.”

Yang dijadikan dalil dari ucapan beliau sallallahu ‘alaihi wa-sallam ini adalah perkataan:

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum mereka.”

Maka tasyabbuh (penyerupaan) seorang muslim kepada seorang kafir tidak pernah dibolehkan dalam Islam. Tasyabbuh kepada seorang kafir ada beberapa tingkatan dari segi hukum. Yang tertinggi adalah haram dan yang terendah adalah makruh. Permasalahan ini sudah diterangkan secara terperinci oleh Syeikhul Islam (Ibn Taimiyah rahimahullah) di dalam kitabnya yang agung, Iqtida’ Siratal Mustaqim, Mukha lafata Ashabil Jahim secara terperinci dan tidak didapati selain dari beliau rahimahullah. Dalam perkara ini perlu juga diperingatkan bahawa sewajarnya talibul ilmi (pencinta ilmu) memperhatikannya agar tidak menyangka bahawa hanya tasyabbuh saja yang dilarang oleh syariat.

Ada perkara lain yang lebih tersamar iaitu perintah untuk tidak menyerupai orang-orang kafir. Tasyabbuh kepada orang-orang kafir adalah menjalankan kesukaan mereka. Adapun menyelisihi orang-orang kafir adalah engkau bermaksud tidak menyerupai (meniru) mereka pada apa yang kita dan mereka mengerjakannya tetapi mereka tidak merubahnya. Seperti sesuatu yang ditetapkan dengan ketetapan yang amali, maka ini adalah ketetapan amali yang tidak berbeza antara muslim dengan kafir kerana sesungguhnya pada ketetapan ini tidak ada usaha dan kehendak dari makhluk. Kerana yang demikian adalah sunnahtullah Tabaraka wa Ta’ala kepada manusia dan tidak akan didapati sunnahtullah itu berubah. Sebagaimana telah sahih dari sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam:

“Sesungguhnya orang Yahudi dan Nasrani tidak menyamir (mencelup) rambut-rambut mereka, maka selisihi mereka (2X).”

Sesungguhnya dalam hal ini seorang mukmin mungkin menyerupai orang kafir dalam hal uban. Dan ini tidak ada perbezaannya. Kamu tidak akan menemukan seorang muslim yang tidak beruban kecuali sangat sedikit sekali. Ada kesamaan di sini pada penampilan antara muslim dan kafir yang sama-sama keduanya tidak boleh memiliki/mengatur sebagaimana yang kami katakan tadi. Maka Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam memerintahkan untuk tidak menyerupai kaum musyrikin, iaitu dengan mencelup uban di rambut kita, iaitu sama saja rambut, janggut atau kepala. Untuk apa? Agar dengan celupan tersebut nampak perbezaan antara muslim dan kafir. Maka apa tujuannya kalau apabila seorang kafir mengerjakan suatu amalan, lalu seorang muslim ikut melakukannya dan terpengaruh dengan perbuatan-perbuatan mereka? Ini kesalahan yang lebih parah daripada penyelisih.

Dalam masalah ini, saya (Muhammad Nashiruddin al-Albani) memperingatkannya sebelum memasuki perbahasan dalam menerangkan jawapan yang ditujukan pada saya. Jika telah diketahui perbezaan di antara tasyabbuh dengan penyelisihan, maka seorang muslim yang benar ke-Islamannya hendaklah terus menerus berusaha menjauhi tasyabbuh dengan orang kafir. Sebaliknya harus berusaha menyelisihi mereka.

Dengan alasan inilah kami mensunnahkan (membiasakan) meletakkan jam tangan di tangan kanan, kerana mereka yang pertama kali membuat jam tangan memakai di tangan kiri.

Kami mengambil istinbath demikian berdasar ucapan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam: “Maka selisihilah mereka.” Kamu mengetahui hadis ini, “Bahawa Yahudi dan Nasara tidak mencelup rambut (uban) mereka, maka selisihilah mereka.” Sebagaimana yang diucapkan Syeikhul Islam dalam kitab tersebut (iktida).

Ucapan Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam: “Maka selisihilah mereka” merupakan hujjah yang mengisyaratkan penyelisihan terhadap orang-orang kafir sebagaimana yang dikehendaki oleh as-Sami’ul ‘Alim (Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan direalisasikan dalam kehidupan seharian. Oleh kerana itu, kami mendapati praktik penyelisihan dalam amalan dan hukum-ahkam bukan termasuk wajib. Seperti makan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam atau, “Solatlah kamu di atas sandal-sandal kamu, Selisihilah Yahudi (2X).”

Maka dengan ini diketahui bahawa solat memakai sandal bukan fardhu. Berbeza dengan memanjangkan janggut, kerana orang yang mencukurnya akan mendapat dosa. Adapun solat dengan bersandal itu adalah perkara yang sunnah (Mustahab). Namun apabila seorang muslim terus menerus tidak memakai sandal ketika solat, justeru telah menyelisihi sunnah dan bukan menyelisihi Yahudi.

Ada suatu hal yang perlu diperhatikan di sini sebagaimana dalam riwayat sikap tawadhu’ Ibnu Mas’oud ketika beliau mempersilakan Abu Musa al-Asyari mengimani solat waktu itu. Pada hal kedudukan Ibnu Mas’oud lebih utama dari Abu Musa radyiallahu anhu. Pada waktu itu Abu Musa al-Asyari melepaskan sandalnya, dan segera ditegur dengan keras oleh Ibnu Mas’oud: “Bukankah ini perbuatan orang-orang Yahudi? Apakah kau menganggap dirimu ada di lembah Tursina yang disucikan?” Ucapan Ibnu Mas’oud ini menegaskan sabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam: “Solatlah di atas sandal kamu dan selisihilah Yahudi!”.

Apabila dua hakikat ini telah difahami, iaitu (larangan) tasyabbuh dan (perintah) menyelisihi kaum musyrikin, maka wajib bagi kita untuk menjauhi setiap perilaku kesyirikan dan segala bentuk kekufuran.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam bersabda:

“Sesungguhnya kamu benar-benar akan mengikuti jalan-jalan yang ditempuh oleh orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, bahkan kalaupun mereka menyusuri atau masuk ke lubang biawak nescaya kamu pun akan memasukinya.”

Berita dari Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam ini mengandungi peringatan bagi umat ini. Namun di samping itu Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam juga mengatakan dalam hadis mutawatir.

“Akan selalu ada dari umatku suatu kelompok yang menampakkan al-haq. Tidak membahayakan mereka orang yang menyelisihi mereka sampai datang hari kiamat.”

Jadi Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam itu telah memberikan khabar gembira dalam hadis sahih ini bahawasanya umat ini terus dalam keadaan baik. Tatkala datang berita ini, iaitu: “Sungguh kamu akan mengikuti jalan-jalan sebelum kamu.” Maka apabila mencontohi Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam di dalam merubah keadaan masyarakat, maka tidak ada dalam aturan Islam merubah keadaan masyarakat dengan cara bergerombol-gerombol, berteriak-teriak melalui demonstrasi (tunjuk perasaan).

Islam mengajarkan ketenangan, antaranya dengan mengajarkan ilmu di kalangan kaum muslimin serta mendidik mereka di atas syariat Islam sehingga membuahkan hasil yang benar, walaupun memerlukan tempoh waktu yang sangat panjang.

Dengan ini saya (Muhammad Nashiruddin al-Albani) katakan dengan ringkas, demostrasi atau tunjuk perasaan yang terjadi di sebahagian negara Islam pada hakikatnya adalah penyimpangan dari jalan kaum mukminin dan tasyabbuh (menyerupai) golongan kafir. Sungguh Allah telah berfirman (yang ertinya):

“Barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia berkuasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam neraka Jahanam dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An-Nisa’ 4: 115)

Si penanya bertanya lagi: Mereka (para penunjuk perasaan) berdalih dengan dalil Sirah (sejarah Nabi), bahawasanya setelah Umar radhiallahu ‘anhu masuk Islam, kaum muslimin (serentak keluar). Umar pada suatu barisan sedang Hamzah di barisan lain. Maka mereka (yang pro demonstrasi) mengatakan tunjuk perasaan ini untuk mengingkari taghut-taghut dan orang-orang kafir Quraisy. Bagaimanakah jawapan anda dengan dalil semacam ini?”

Syeikh menjawab: Jawapan terhadap pendalilan seperti itu adalah: Berapa kali aksi demonstrasi ini terjadi pada masyarakat Islam (dulu)? Hanya satu kali. Padahal Sirah termasuk sunnah yang diikuti. Menurut ulama fekah, mereka mengatakan kalau sudah nyata dari Rasul sallallahu ‘alaihi wa-sallam sesuatu ibadah yang disyariatkan, maka akan diberi pahala orang yang melakukannya. Dan dalam pelaksanaannya pun tidak boleh terus menerus tanpa putus kerana dikhuatirkan menyerupai perkara wajib dengan sebab lamanya waktu.

Kebanyakan manusia (menurut adat mereka) kalau ada salah satu muslim meninggalkan sunnah seperti ini, nescaya akan diingkari dengan keras. Demikian menurut para ahli fekah. Maka bagaimana kalau ada suatu peristiwa yang sekilas terjadi pada waktu tertentu seperti disebutkan di dalam sirah di atas, kemudian dijadikan sunnah yang diikuti, bahkan dijadikan hujjah untuk mendukung apa yang diperbuat oleh orang-orang kafir secara terus menerus, sedangkan kaum muslimin tidak secara mutlak melakukannya kecuali pada saat itu sahaja.

Kita mengetahui kebanyakan pemerintahan mempunyai hukum-ahkam yang keluar dari Islam dan kadang-kadang manusia dipenjarakan dengan zalim dan melampaui batas, maka bagaimana sikap kaum muslimin dalam hal ini? Rasul shallallahu ‘alaihi wa-sallam telah memerintahkan dalam hadis sahih wajibnya taat kepada pemerintah walaupun dia mengambil hartamu dan memukul punggungmu. Namun kenyataannya demonstrasi bukan ketaatan kepada pemerintah seperti yang digariskan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam.

Inilah yang saya (al-Albani) khuatirkan tentang apa yang dinamakan “Kebangkitan (syahwah) suara kebenaran,” bagaimana kita akan meredhainya? Bagaimana mungkin suatu kebangkitan (syahwah) dengan perasaan, bukan dengan ilmu? Padahal ilmu itulah yang menjadikan perkara itu dianggap baik atau buruk.

Tidak diragukan lagi di al-Jazair dan setiap negara Islam, syahwah ini lahir dari pemuda Muslim setelah mereka “bangun dari tidur”. Akan tetapi kamu akan melihat mereka berjalan di atas jalan yang menunjukkan ketidak-gigihan mereka dalam menuntut ilmu Allah 'Azza wa Jalla.

Kita tidak memperpanjangkan pembahasan. Cukuplah kita katakan pengambilan mereka terhadap dalil demonstrasi ini menunjukkan kebodohan mereka terhadap fiqh Islam sebagaimana yang kami telah nyatakan. Kejadian yang sesaat ini terbetik pada diri saya dan saya teringat bahawa kejadian ini tercatit dalam sirah.

Akan tetapi saya belum boleh mendapati sahih atau tidaknya saat ini. Jika riwayat ini sahih sanadnya dan ada salah seorang di antara kamu mendapati riwayat ini pada kitab-kitab hadis muktabar, tolong ingatkan saya. Sehingga saya boleh memeriksa barangkali riwayat tentang demonstrasi dalam sirah tersebut sahih. Maka kalaupun sahih, hanya dilakukan sekali sahaja. Jika terjadi hanya sekali sahaja, tentu tidak boleh dijadikan sunnah. Apalagi bila demonstrasi saat ini lebih sering dilakukan oleh orang-orang kafir yang seharusnya kaum muslimin meningalkannya (tidak menirunya).

Kejadian ini dilakukan oleh orang-orang kafir kemudian kita mengikutinya. Ulama Hanafiah telah membuat pijakan di dalam masalah fiqhiyah bahawasanya ada suatu masalah yang merupakan sunnah Muhammadiyah yang tidak sepatutnya ditinggalkan, iaitu sunnah membaca surah Sajadah pada pagi hari Jumaat (waktu solat subuh). Ini terdapat dalam Sahihain (Bukhari dan Muslim).

Walaupun demikian ulama Hanafiah menganjurkan pada imam-imam masjid agar sesekali meninggalkannya, dikhuatirkan apabila terus menerus diamalkan di kalangan orang awam, akan mengangkat hukumnya keluar dari hukum asalnya, iaitu dari sunnah menjadi wajib.

Kami mempunyai bukti yang mendukung ketelitian dalam fiqh dan pemahaman terhadap sunnah ini. Saya sangat ingat bahawasanya imam di masjid besar Damaskus iaitu masjid Bani Umaiyah, mengimami solat subuh di masjid tersebut dan dia tidak membaca surah Sajadah. Baru saja imam salam, tiba-tiba mereka membentak dan mendatangi imam tersebut seraya berkata: “Kenapa engkau tidak membaca surah Sajadah?” Kemudian ia menerangkan bahawa hal itu adalah sunnah, dan kadang-kadang dianjurkan untuk meninggalkannya.

Kejadian ini terjadi kerana imam masjid mengamalkan amalan tersebut secara terus menerus dan berlangsung lama. Dan waktu itu ia tidak mengerjakan amalan tersebut.

Lebih aneh lagi yang terjadi pada diri saya. Pada suatu hari saya berada dalam perjalanan dari Damaskus, kira-kira 60km ke Madhya. Maka aku hampiri di pagi hari Jumaat untuk solat berjamaah bersama kaum muslimin di sana. Tatkala itu imam tidak datang. Maka mereka mencari pengganti imam yang sesuai. Mereka tidak mendapati pengganti kecuali saya. Pada waktu itu saya masih muda dan janggut saya baru tumbuh. Dalam keadaan bingung, mereka menyuruh saya mengambil alih.

Saya sebenarnya belum menghafal surah Sajadah dengan baik, maka saya membaca surah Maryam. Saya membaca dua halaman awal. Tatkala saya takbir untuk rukuk, maka saya merasakan semua makmum telah sujud. Ini menunjukkan kerana apa? Kerana adat kebiasaan (iaitu mereka sujud tilawah kerana kebiasaan dan bukan dengan ilmu).

Sayogianya para imam menjaga keadaan masyarakatnya agar tidak ghuluw (berlebihan) pada sebahagian hukum-ahkam. Lalu memberi penjelasan bahawa masalah syariat, wajib untuk diambil dengan tanpa sikap keterlaluan hingga mengangkat darjat hukum sunnah menjadi wajib dan sebaliknya yang wajib menjadi sunnah.

Semua ini adalah ifrath dan tafrith yang tidak diperbolehkan. Inilah jawapan saya terhadap pendalilan (riwayat Umar di atas) yang menunjukkan atas kebodohan orang yang mengambil dalil dengannya. (Kaset Fatwa Jeddah no. 89980, pagi subuh, hari Ahad, 27 Jamadil Akhir 1410H).

Bantahan Terhadap Syubhat Abdul Rahman Abdul Khaliq

Di awal sudah saya sentuh masalah manhaj Abdul Rahman Abdul Khaliq terhadap pemerintahan muslimin. Iaitu bolehnya mengadakan demonstrasi sebagai alat dakwah dengan berdalil riwayat Umar radiyallahu ‘anhu yang dibawakan oleh seorang penanya di atas.

Dan Syeikh al-Albani mengatakan bahawa beliau belum tahu sahih dan dhaifnya riwayat tersebut. Syeikh Abdul Aziz bin Baz telah membantah syubhat Abdul Rahman Abdul Khaliq. Kata Syeikh bin Baz: “Engkau menyebutkan pada kitab Fushul Minas Siyasah as Syariyah hal. 31-32 bahawasanya termasuk dari uslub (metod) dakwah Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam adalah demonstrasi. Saya belum pernah mengetahui nas yang sharih (jelas) dalam masalah ini. Maka saya mengharap faedah dari siapa kamu mengambil dan dari kitab mana kamu dapatkan. Jika hal itu tidak ada sanadnya, maka kamu wajib untuk rujuk (kembali/bertaubat) dari hal itu. Kerana saya tidak tahu sama sekali nas-nas yang menunjukkan hal itu.

Dengan menggunakan demonstrasi atau tunjuk perasaan justeru mengakibatkan banyak kerosakan. Jika nas (dalil) itu sahih, maka sempurna sehingga orang-orang yang membuat kerosakan tidak berdalih dengannya dalam demonstrasi-demonstrasi mereka yang batil.” (Tanbihat wa Ta’aqibat. Hlm. 41).

Jawapan Abdul Rahman Abdul Khaliq: Adapun ucapanku pada kitab al Fusul Minas Syiasah as Syariyah fi Dakwah Ilallah, maka saya katakan: Saya telah menyebutkan demonstrasi-demonstrasi yang digelar itu sebagai wasilah (perantaraan) Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam dalam menampakkan dakwah Islam sebagaimana telah diriwayatkan bahawa setelah masuk Islamnya Umar radiyallahu ‘anhu kaum muslimin keluar kerana perintah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam pada dua saf (barisan) dalam rangka menampakkan kekuatan. Dalam satu barisan terdapat Hamzah radhiyallahu ‘anhu manakala barisan yang lain ada Umar bin al-Khattab radiyallahu ‘anhu beserta kaum muslimin.”

Kemudian Abdul Rahman Abdul Khaliq membawakan riwayat dengan sanad-sanad yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di dalam al-Hilyah dengan sanad sampai kepada Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhu, Ibnu Abi Syaibah dalam as-Syabah dan di dalam tarikhnya serta al Bazar. Kemudian dia (Abdul Rahman) berkata: Tetapi setelah kedatangan surat anda (Syeikh Ibnu Baz) aku dapati bahawa jalur sanad hadis ini atas Ishaq bin Abdullah bin Abi Farwah, dia mungkarul hadis. Demikian pernyataan Abdul Rahman Abdul Khaliq (ini membuktikan bahawa Abdul Rahman Abdul Khaliq mengakui tentang kemungkaran hadis demonstrasi).

Tapi anehnya setelah itu ia mengatakan: Saya berpandangan metod ini (demonstrasi) boleh untuk dijadikan metod yang benar dalam mendorong/menganjurkan manusia dalam solat Jumaat dan berjamaah dalam rangka menampakkan banyaknya orang Islam. Demikian juga mempamerkan tentera-tentera Islam bersama dengan peralatan perang, kerana hal ini dapat menaklukkan hati-hati musuh dan menakutan musuh-musuh Allah serta meninggikan syariat Islam.

Demikianlah cara ahlul bid’ah. Setelah ditanya atau dibantah dari sisi pendalilan (dari syara') dan setelah ucpan atau perbuatannya diketahui tidak benar, bahkan palsu, mereka tidak mahu merujuk kepada dalil yang sahih dan manhaj yang benar. Bahkan dia berdalih: “Maksud saya demikian, maksud saya demikian.” Boleh sahaja hadis lemah dalam hal ini, bahkan hadis palsu dijadikan i’tibar dan berbagai silat lidah (putar belit) lainnya pun meluncur tajam dari mulutnya sebagai alasan.

Maka saya katakan: Setelah dalilnya diketahui mungkar, kerana adanya perawi yang mungkarul hadis pada sanadnya, tentu saja demonstrasi tidak boleh dijadikan sebagai hujjah manhaj amar makruf nahi mungkar. Kerana metod/inti dakwah adalah tauqifiyah, iaitu harus sesuai dengan metod Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam dan para sahabatnya.

Andainya kisah Umar itu sahih, maka penjelasan adalah sebagimana yang telah diterangkan oleh Syeikh al-Albani, bahawa setelah diketahui dalil mereka berdemonstrasi itu dhaif (lemah) bahkan mungkar, maka tidak boleh lagi dijadikan sebagai dalil bolehnya berdemonstrasi, sekalipun niat dan tujuannya disangka sebagai baik, sebagaimana telah diterangkan oleh Syeikh bin Baz di atas. Wallahu a’lam.

Kemungkaran Demonstrasi (Tunjuk Perasaan)

Dalam tulisan di atas, sudah diterangkan sebahagian kemungkaran pada perbuatan demonstrasi (tunjuk perasaan), maka jika diringkaskan maka antara kemungkaran-kemungkarannya ialah:

(1). Ianya jelas berbentuk tasyabbuh, iaitu perbuatan tersebut menyerupai perbuatan orang-orang kafir.

(2). Termasuklah khuruj (keluar menentang pemerintah) yang dilarang oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam dalam riwayat Muslim dan lain-lain.

(3). Menceritakan aib pemerintah di hadapan umum dalam bentuk pidato/ucapan yang inipun dilarang oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam.

(4). Ikhtilath (bercampur-baurnya) lelaki dan perempuan, bahkan berhimpit-himpitan.

(5). Tidak berasaskan undang-undang atau hukum syara', yang mana demonstrasi seringkali berlaku di dalamnya pidato/ucapan berbentuk hasutan dan fitnah.

Jalan Penyelesaian Dari Krisis

Pada situasi sekarang, masalah yang timbul bukan sahaja terjadi yang berpunca dari satu aspek, misalnya ekonomi, tetapi juga terjadi pada aspek lainnya, seperti sosial dan politik. Dan krisis ini tidak boleh sembuh secara total jika dibasmi dengan kebatilan tunjuk perasaan.

Suatu negara yang dipimpin oleh pemimpin yang zalim yang di dalamnya ditaburi dengan perbuatan-perbuatan mungkar orang yang berkuasa seperti korupsi (rasuah) dan nepotisme merupakan hasil dari sikap dan tindakan rakyatnya juga. Maka kalau rakyatnya baik, nescaya Allah Subhanahu wa-Ta’ala akan menganugerahkan kepada mereka pemimpin yang baik, arif dan bijaksana. Hal ini sudah dilbuktikan oleh junjungan kita Nabi Muhammad sallallahu ‘alahi wa-sallam dan para Khulafa ar-Rasyidin.

Adapun setiap situasi yang kacau bilau, maka jalan keluar dan penyelesaiannya bukanlah dengan demonstrasi, tetapi dengan amar makruf nahi mungkar dengan cara yang tepat dan benar. Kemudian menyebarkan ilmu yang hak di kalangan umat agar muncul generasi-generasi yang berbekal ilmu. Akhirnya diharapkan nanti setiap langkah yang mereka lakukan diukur dengan ilmu syara yang hak. Dengan demikian akan musnahlah virus salah guna kuasa, korupsi dan virus-virus yang lainnya.

"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan ang mengerjakan amal-amal yang sholeh bahawa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diredhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." (Surah an-Nuur, 24: 55)

Wallahu’alam.

Isu 12 - TAUHID HAKIMIYAH - PUNCA DEMONSTRASI, PEMBERONTAKAN, PERPECAHAN &

- TAUHID HAKIMIYAH -

PUNCA DEMONSTRASI, PEMBERONTAKAN, PERPECAHAN & PENGKAFIRAN (TAKFIR)

Pembahasan yang ditulisan ini, adalah berkisar berkenaan pembongkaran dan pendedahan tentang gerakan Khawarij yang berkaitan dengan akidah tauhid hakimiyah atau tauhid mulkiyah. Akidah batil ini masih disebar dan diperjuangkan oleh kelompok Khawarij serta para pendokongnya serta mereka-mereka yang semanhaj dengan Khawarij.

Pemikiran aliran bid’ah ini terus berkembang segar terutama di seluruh negara-negara Islam. Mereka berada bersama kita, aktif memperjuangkan doktrin-doktrin mereka yang palsu, baik dalam masalah iman, akidah, siasah, ibadah, serta masalah lain yang diadopsi dari induknya iaitu Khawarij atau Muktazilah. Di dalam tulisan ini akan dipaparkan dan disingkap keburukan dan bid’ahnya fahaman yang menyeleweng ini, terutamanya tauhid hakimiyah.

Fahaman yang batil ini perlu diketengahkan dan didedahkan (untuk difahami), kerana sesiapa yang tidak memahami maksud hakimiyah akan mudah diperangkap oleh puak Khawarij. Akhirnya akan mengkafirkan sesiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah dengan pengkafiran mutlak. Fahaman ini menyalahi pegangan Ahli Sunnah yang bermanhaj Salaf as-Soleh sebagaimana yang akan dijelaskan.

Niat penulis mengedepankan isu hakimiyah ini bukanlah bermaksud ingin mengekalkan (mempertahankan) hukum-hukum jahiliyah, undang-undang kafir atau kanun si taghut, tetapi semata-mata agar masyarakat Islam sentiasa berhati-hati dan berwaspada terhadap kelompok Khawarij gaya baru yang sentiasa giat mencari mangsanya. Maka dengan memahami persoalan ini, insya Allah masyarakat tidak mudah mengkafirkan antara satu dengan yang lain sebagaimana yang diamalkan oleh golongan Khawarij.

Sememangnya tidak mudah untuk menghadapi dan membenteras fahaman Khawarij ini jika hanya dengan emosi atau suara kejahilan yang dibisikkan oleh hawa nafsu, tetapi yakinilah bahawa fahaman dan gerakan yang batil ini dapat dibasmi dan dihapuskan dari berkembang di kalangan masyarakat dengan ilmu yang dibekalkan oleh Kitabullah dan Sunnah RasulNya. Mudah-mudahan tulisan ini akan memberi manfaat dan menyumbang kepada khazanah ilmu-ilmu salaf yang diperlukan oleh generasi yang mempunyai wasasan dunia dan akhirat.

TAUHID HAKIMIYAH (Tauhid Mulkiyah)

Sejak dizaman Salaf as-Soleh sehinggalah sekarang, para ulama Ahli Sunnah wal-Jamaah yang bermanhaj Salaf, sangat berhati-hati dari mencerca atau mencela mereka yang berpegang dan yang mendi’ayahkan al-hakimiyah atau tauhid hakimiyah. Mereka juga tidak akan memperkatakan tentang “Al-Hakimiyah” atau menyeru kepadanya tanpa terlebih dahulu mengetahui maksud dan tujuan sebenar kalimah ini. Malah bagi kalangan Ahli Sunnah wal-Jamaah diwajibkan meneliti apa yang dikehendaki oleh kalimah ini sehingga diketahui dan difahami, kemudian setelah jelas bagi mereka barulah mula memperkatakannya sesuai dengan tujuan dan maksud kalimah tersebut.

Namun, tauhid hakimiyah atau disebut juga tauhid mulkiyah yang menjadi perbincangan dalam tulisan ini, termasuk perkara-perkara baru yang tidak pernah disebut oleh kalangan Salaful Ummah dengan pengistilahan ini. Tetapi kemudiannya diketahui dan dikenal pasti bahawa tauhid hakimiyah ini datangnya dari kelompok Khawarij. Maka yang jelas “Al-hakimiyah” dengan lafaz ini tidak ada sumber dan asal-usulnya secara syariat. (Lihat: Fatwa Syeikh Dr. Nashir al-‘Aql. Harian al-Muslimun, No 639. Jumaat, 25 Zulhijah 1417H/2 May 1997. Kuwait.)

Tauhid hakimiyah mengikut fahaman dan kehendak Khawarij masih terus dipropagandakan dan diperjuangkan oleh puak-puak ini. Ia mendapat bantuan dan sokongan dari pentaqlid buta dan mereka yang terpengaruh dengan fahaman ini sejak mula kemunculannya sehingalah kesaat ini. Pengikut fahaman yang batil ini, disebabkan kejahilannya tidak mampu menyedari bahawa tauhid hakimiyah jika dikembalikan kepada maksud syara’, maka ia adalah bahagian dari tauhid uluhiyah. Oleh itu tidak boleh menjadikan tauhid hakimiyah ini sebagai bahagian khusus yang dipisahkan dari tauhid uluhiyah, kerana ia termasuk dalam bahagian tauhid ibadah. (Penjelasan Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah Alu Syeikh. Anggota Hai’ah Kibarul Ulama Saudi Arabia dan wakil Mufti ‘Am urusan fatwa)

Malangnya mereka (terutamanya golongan Khawarij, Muktazilah dan yang sefahaman dengan mereka) telah menyempitkan pengertian tauhid hakimiyah ini, ia hanya dimasukkan pada persoalan hukum-hukum fikeh atau mu’amalah kemudian dicampur-adukkan dengan persoalan tauhid atau akidah. Mereka menyerukan tauhid hakimiyah ini melalui olahan mereka untuk menegakkan hukum berdasarkan kalimah ini, kemudian mengkafirkan sesiapa yang mengingkarinya tanpa berlandaskan kaedah pengistimbatan (pengambilan) hukum dari dalil syara dengan kaedah atau cara yang betul dan sempurna.

Ramai juga yang tidak mengetahui dan tidak menyedari bahawa seruan Khawarij ini adalah seruan yang muhdas (bid’ah). Akibatnya, mereka menjadikan tauhid hakimiyah (model Khawarij) sebahagian dari tauhid yang keempat iaitu setelah tauhid Rububiyah, Uluhiyah dan Asma wa-Sifat. Sebagai bukti, mereka mengkafirkan sesiapa sahaja yang tidak menerima konsep mereka tentang hakimiyah. Mereka menambah tauhid rububiyah, uluhiyah, asma wa-sifat dengan tauhid yang keempat iaitu tauhid hakimiyah, sedangkan penambahan ini tidak pernah dilakukan oleh para Salaf as-Soleh, ini nyata membuktikan perbuatan mereka menjadikan pelaksanaan hukum sebagai satu dari cabang tauhid sehingga sesiapa yang meninggalkannya menjadi kafir (dihukum kafir) mutlak (menurut mereka).

Sebenarnya seruan dan perjuangan mereka ini adalah semata-mata demi untuk menentang pemerintah Islam, memecah-belahkan umatnya dengan cara melakukan pemberontakan, revolosi, demonstrasi dan mengkafirkan sesiapa sahaja yang tidak masuk ke dalam golongan dan harakah mereka (Khawarij gaya baru) ini.

SIAPAKAH YANG DINAMAKAN KHAWARIJ?

Nama Khawarij, sikap, perbuatan, tindakan serta sifat buruk kelompok ini telah disebut oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam di dalam beberapa sabda baginda, antaranya ialah:

عَنْ اَبِيْ بَرْزَةَ اَنَّهُ قِيْلَ لَهُ : هَلْ سَمِعْتَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَى اللهُ عِلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُوْنَ الْخَوَارِجِ؟ فَقَالَ : نَعَمْ . سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِاُذُنِيْ وَرَاَيْتُهُ بِعَيْنَيْ اُتِيَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَالٍ فَقَسَمَهُ فَاَعْطَى مَنْ عَنْ يَمِيْنِهِ وَمَنْ عَنْ شِمَالِهِ وَلَمْ يُعْطَ مَنْ وَرَاءَ هُ شَيْئًا فَقَامَ رَجُلٌ مِنْ وَرَائِهِ فَقَالَ : يَا مُحَمَّدُ مَا عَدَلْتَ فِى الْقِسْمَةِ ، رَجُلٌ اَسْوَدُ مَطْمُوْمُ الشَّعْرِ عَلَيْهِ ثَوْبَانِ اَبْيَضَانِِ . فَغَضِبَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَضَبًا شَدِيْدًا وَقَالَ : وَاللهِ لاَ تَجِدُوْنَ بَعْدِي رَجُلاً هُوَ اَعْدَلُ مِنِّيْ ؟ . ثَمَّ قَالَ : يَخْرُجُ فِى آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ كَاَنَّ هَذَا مِنْهُمْ يَقْرَؤُوْنَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُوْنَ مِنَ اْلاِسْلاَمِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ سِيْمَاهُمْ التَّحْلِيْقُ لاَيَزَالُوْنَ يَخْرُجُوْنَ حَتَّى يَخْرُجُ آخِرُهُمْ مَعَ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ ، فَاِذَا لَقِيْتُمُوْهُمْ فَاقْتُلُوْهُمْ هُمْ شَرُّ الْخَلْقِ وَالْخَلِيْقَةِ.
“Dari Abu Barzah beliau ditanya: Apakah engkau mendengar Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam bersabda tentang Khawarij? Ia menjawab: Ya! Aku mendengar Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam bersabda dengan telingaku dan melihat dengan mataku. Baginda datang dengan membawa harta, lalu baginda membahagi-bahagikannya. Maka baginda memberi kepada orang-orang yang berada di sebelah kanan dan kirinya dan tidak memberikan kapada orang-orang yang berada di belakang baginda sedikitpun. Berdirilah seorang yang berada di belakang baginda lantas berkata: Wahai Muhammad! Engkau tidak adil dalam pembahagian. Dia adalah seorang lelaki yang berkulit hitam dengan rambut yang dicukur gondol dan memakai dua baju putih. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam marah dengan kemarahan yang bersangatan, kemudian bersabda: Demi Allah! Kamu tidak akan mendapat seorang setelahku yang lebih adil daripadaku. Kemudian baginda bersabda lagi: Akan muncul pada akhir zaman suatu kaum seolah-olah ia dari mereka (orang-orang yang menentang kepimpinan Rasulullah). Mereka membaca al-Quran tetapi tidak melebihi tenggorokan mereka, terlepas dari Islam seperti terlepasnya anak panah dari busurnya, ciri-ciri mereka ialah bercukur gondol, mereka akan sentiasa bermunculan sehingga akan keluar orang yang terakhir bersama al-Masih ad-Dajjal. Jika kamu menemui mereka maka bunuhlah mereka. Mereka seburuk-buruk makhluk dan ciptaan”. (H/R Ahmad (429) dan Nasaii (4104).)

Antara ciri-ciri besar Khawarij, suka membantah, menyalahkan dan menuduh pemimpin yang tidak disenangi tidak adil. Semuanya ini telah digambarkan oleh Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa-sallam di dalam sabda baginda:

عَنْ اَبِيْ سَعِيْدِ الْخُدْرِيِّ قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وهُوَ يَقْسِمُ قِسْمًا اَتَاهُ ذُوْ الْخُوَيْصِرَةِ وَهُوَ رَجُلٌ مِنْ بَنِيْ تَمِيْمِ فَقَالَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ اِعْدِلْ . قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَسَلَّمَ : وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلْ اِنْ لَمْ اَعْدِلْ؟ قَدْ خِبْتُ وَخَسِرْتُ اِنْ لَمْ اَعْدِلُ ؟ فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ! آئِذَنْ لِيْ فِيْهِ اَضْرِبُ عُنُقَهُ . قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: دَعْهُ فَاِنَّ لَهُ اَصْحَابًا يَحْقِرُ اَحَدُكُمْ صَلاَتَهُ مَعَ صَلاَتِهِمْ ، وَصِيَامُهُ مَعَ صِيَامِهِمْ ، يَقْرَؤُوْنَ الْقُرْآنَ لاَيُجَاوِزُ تَرَاقِيُهُمْ يَمْرُقُوْنَ مِنَ الْلاِسْلاَمِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهَمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ.
“Dari Abi Sa’id al-Khudri berkata: Ketika kami bersama Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam di suatu ketika beliau sedang membahagi-bahagikan beberapa pembahagian. Datanglah kepada baginda Zul Khuwaisirah dari Bani Tamim dan berkata: Wahai Rasulullah berlaku adillah! Baginda bersabda: Celaka engkau! Siapakah yang akan berlaku adil jika aku tidak adil, dosalah aku dan merugilah jika aku tidak berlaku adil. Maka Umar al-Khattab berkata: Wahai Rasulullah! Izinkan aku untuk memenggal lehernya. Baginda bersabda: Biarkan dia, kerana dia mempunyai teman-teman yang salah seorang antara kamu akan diremehkan solatnya jika dibandingkan dengan salat mereka, dan puasanya jika dibandingkan dengan puasa mereka. Mereka membaca al-Quran tetapi tidak melebihi kerongkong mereka, mereka terlepas dari Islam sebagaimana terlepasnya anak panah dari busurnya”. (H/R Bukhari (3610), Muslim (1064 dan Ahmad (224))

Orang-orang Khawarij dan pengikut fahaman ini kuat ibadahnya, banyak membaca al-Quran dan melakukan sembahyang, tetapi mereka masih dimurkai Allah, perihal mereka telah digambarkan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam:

يُخْرُجُ قَوْمٌ مِنْ اُمَّتِيْ يَقْرَؤُوْنَ الْقُرْآنَ يَحْسَبُوْنَ اَنَّهُ لَهُمْ وَهُوَ عَلَيْهِمْ لاَتَجَاوِزُ صَلاَتِهِمْ تَرَاقِيَهُمْ
“Akan keluar satu kaum (Khawarij) dari umatku yang membaca al-Quran, mereka menyangka bahawasanya diberi pahala untuk mereka padahal (kemurkaan Allah) atas mereka. Solat mereka pula tidak melepasi tenggorokan mereka”. (H/R Muslim (1066))

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam juga menggambarkan sikap dan sifat buruk orang-orang Khawarij yang pandai bercakap, bertikam lidah dan berhujjah, tetapi kata-kata dan hati mereka kosong belaka lantaran mereka berperangai buruk yang bertentangan dengan Kitabullah:

يُحْسِنُوْنَ الْقِيْلَ وَيَسِيْئُوِنَ الْفِعْلَ يَدْعُوْنَ اِلَى كِتَابِ اللهِ وَلَيْسُوْا مِنْهُ فِى شَيْىءٍ.
“Membaguskan perkataan tetapi buruk perbuatannya. Mengajak kepada kitab Allah tetapi tidaklah mereka termasuk di dalamnya sedikitpun”. (H/R Ahmad (224).)

Khawarij juga adalah nama yang diberikan kepada hizbi dan firqah, golongan atau parti yang keluar dari Jamaah Muslimin (pemerintah atau penguasa Islam) untuk menentang atau memberontak, sebagaimana yang berlaku terhadap pemerintahan Khalifah Uthman radiallahu ‘anhu. Maka akibat dari tindakan dan pemberontakan tersebut, berlaku pembunuhan terhadap Khalifah Uthman.

Kemudian dimasa kekhalifahan Ali radiallahu ‘anhu semakin bertambah lagi keburukan dan kekejian perbuatan Khawarij, mereka memisahkan diri dari jamaah Ali, mereka merupakan kelompok pertama yang keluar dari as-Sunnah wal-Jamaah, mereka mengkafirkan Ali serta para sahabat yang menyebelahi Ali kerana tidak secucuk dengan pemikiran dan manhaj mereka. Bahkan sikap keras mereka terbukti dengan membunuh sahabat yang bernama Abdullah bin Khabab dan isterinya.

Jika difahami dari beberapa sabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam tentang Khawarij, maka terbukti bahawa kelompok Khawarij memang telah muncul, dan akan terus bermunculan sehinggalah keakhir zaman. Dan mereka akan bantu-membantu (bertolong-tolongan) dengan Dajjal sebagaimana yang telah dikhabarkan oleh baginda:

سَيَخْرُجُ فِى آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ اَحْدَاثُ اْلاَسْنَانِ ، سُفَهَآءُ اْلاَحْلاَمِ ، يَقُوْلُوْنَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِّيَّةِ ، يَقْرَاُوْنَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ ، يَمْرُقُوْنَ مِنَ الدِّيْنِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهَمَ مِنَ الرَّمِيَّةِ
“Akan keluar pada akhir zaman satu kaum, umurnya masih muda, rosak pemikirannya, mereka berkata dari sebaik-baik perkataan makhluk. Membaca al-Quran tidak melebihi kerongkong mereka. Mereka terkeluar dari agama seperti terkeluarnya anak panah dari busurnya”. (H/R Bukhari (3611) dan Muslim (1066))

TAKFIR (PENGKAFIRAN)

Sepanjang sejarah Islam, Khawarij dikenali sebagai golongan yang mudah menghukum kafir (takfir) terhadap sesiapa sahaja yang menyalahi mazhab mereka, sehingga berani mengkafirkan manusia pilihan iaitu Uthman dan Ali radiallahu ‘anhuma serta para sahabat yang lain kerana bertahkim kepada selain yang diturunkan oleh Allah. Antara punca para sahabat pada masa itu dikafirkan oleh kelompok Khawarij adalah lantaran tidak mengikut jejak mereka dalam menghukum sesat dan mengkafirkan Khalifah Ali radiallahu ‘anhu.

Ibn Taimiyah pernah menjelaskan: Dasar penekanan Khawarij ialah mengkafirkan seseorang lantaran ia berdosa, padahal berdosa tidak menyebabkan seseorang menjadi kafir. Prinsip mereka kembali kepada al-Quran, tetapi tidak kepada sunnah yang disangka menyalahi zahir al-Quran sekalipun sunnah yang mutawatir. Khawarij mengkafirkan dan menghalalkan darah serta segala apa yang ada pada orang Islam yang menentang mereka, tetapi tidak mengharamkan darah orang yang kafir. Rasulullah bersabda:

يَقْتُلُوْنَ اَهْلَ اْلاِسْلاَمَ وَيَدُعُوْنَ اَهْلَ اْلاَوْثِانِ.
“Mereka (Khawarij) membunuh (memerangi) ahlul Islam, tetapi membiarkan para penyembah berhala” (H/R Bukhari. No. 3644. Musl;im No. 1064. Lihat: Sahih al-Jami’ No. 2227. Nasruddin al-Albani.)

KHAWARIJ BUKAN AHLI SUNNAH WAL-JAMAAH

Khawarij tidak boleh digolongkan sebagai Ahli Sunnah kerana mereka tidak berpegang kepada pegangan Ahli Sunnah wal-Jamaah, begitulah yang disepakati oleh para ulama Ahli Sunnah wal-Jamaah tentang akidah dan manhaj Khawarij.

Khawarij diketahui sebagai golongan yang tidak mahu mentaati pemerintah Islam serta keluar untuk memberontak terhadap pemerintah serta pandai memecah-belahkan Jamaah termasuk mengecuhkan (membuat kacau) akan ajaran agama. (Lihat: Membongkar Firqah-Firqah Sesat. Hlm. 45. Syeikh Solih bin Fauzan al-Fauzan. Pustaka As-Salaf. Muharam 1420H/ Mei, 1999M) Perbuatan mereka ini bertentangan dengan firman Allah ‘Azza wa-Jalla dan dengan apa yang telah diwasiatkan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam tentang suruhan agar tetap taat kepada Allah dan Ulil Amri (pemerintah atau penguasa Islam). Firman Allah:

اَطِيْعُوْا اللهَ وَاَطِيْعُوْا الرَّسُوْلَ وَاُوْلِي اْلاَمْرِ مِنْكُمْ.
“Taatilah Allah, taatilah RasulNya dan Ulil Amri antara kamu”. An-Nisa, 59.

Perlu diketahui bahawa Allah Jalla wa-‘Ala memasukkan perkara taat kepada pemerintah merupakan bahagian dari agama. (Lihat: Membongkar Firqah-Firqah Sesat. Hlm. 45. Syeikh Solih bin Fauzan al-Fauzan. Pustaka As-Salaf. Muharam 1420H/ Mei, 1999M) Demikian pula Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa-sallam tidak memperbolehkan memberontak sebagaimana sabda baginda:

لاَ ، مَا اَقَامُوْا فِيْكُمْ الصَّلاَةَ

“Tidak (tidak boleh memberontak terhadap penguasa pemerintah Islam) selama mereka masih mendirikan solat ditengah-tengah kamu”. (H/R Muslim (1855))

Rasulullah sallallahu ‘alihi wa-sallam menjadikan perkara taat kepada pemerintah merupakan bahagian dari kewajipan agama Islam. Baginda bersabda:

اُصِيْكُمْ بِتَقْوَ ى اللهِ وَالسَّمْعَ وَالطَّاعَةِ ، وَاِنْ تَاَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ ، فَاِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا.

“Aku wasiatkan kepada kamu untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat walaupun yang memerintah kamu adalah seorang hamba. Maka sesiapa yang masih hidup maka dia akan melihat perselisihan yang banyak”.

Oleh yang demikian, taat kepada pemerintah Islam adalah merupakan bahagian dari kewajipan dan sikap orang yang beragama Islam. Namun Khawarij akan menentang dan mengatakan: “Tidak! Kami adalah orang-orang merdeka”. Inilah antara cara revolusi yang Khawarij lakukan pada masa dahulu dan hari ini kepada orang Islam yang di luar kelompok mereka. Maka Khawarij adalah orang-orang yang menginginkan perpecahan Jamaah Muslimin dan mematahkan tongkat ketaatan rakyat terhadap pemerintah Islam serta bermaksiat kepada Allah dan RasulNya. Dan antara pendapat mereka yang paling mungkar ialah: “Sesiapa yang melakukan dosa besar (seperti tidak berhukum dengan hukum Allah) maka mereka dihukum sebagai kafir”. (Menurut ajaran Khawarij lagi) pelaku dosa besar seperti penzina, pencuri, penagih arak dan tidak berhukum dengan hukum Allah semuanya dianggap kafir sebagaimana kepercayaan mereka:

“Pelaku dosa besar itu kafir dan tidak akan diampuni serta kekal di dalam neraka”. (Lihat: Membongkar Firqah-Firqah Sesat. Hlm. 48. Syeikh Soleh bin Fauzan al-Fauzan. Cetakan pertama Muharam 1420H/Mei 1999M. Pustaka As-Salaf. Kartasura Solo. Indonesia)

AHLI SUNNAH MENENTANG KHAWARIJ

Keyakinan dan pegangan Ahli Sunnah wal-Jamaah bertentangan dengan pegangan Khawarij, kerana Ahli Sunnah wal-Jamaah menganggap bahawa pelaku dosa besar itu masih dianggap sebagai Muslim, iaitu Muslim yang kurang imannya (lemah imannya), hanya sahaja mereka menamakan mereka sebagai orang fasik (atau ‘asi) lantaran dosa-dosa kecil atau besarnya. Dosa besar tersebut tidak mengeluarkannya dari Islam, kecuali jika ia melakukan kesyirikan atau perkara-perkara yang telah diketahui membatalkan akidah keislamannya secara jelas (yang tidak lagi boleh ditakwil). Adapun dosa selain syirik, maka sesungguhnya tidak mengeluarkan seseorang dari keimanan walaupun melakukan dosar-dosa besar. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa-Jalla:

اِنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ اَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَآءُ.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampunkan dosa syirik, dan Dia akan mengampunkan segala dosa selain dari (syirik) bagi sesiap yang dikehendakiNya”. An-Nisa, 116.

Banyak kata-kata Khawarij yang bertentangan dengan apa yang tersebut dalam Kitabullah. Semua itu terjadi disebabkan kerana mereka tidak mempunyai pengetahuan (tentang ilmu agama). Ini berlaku disebabkan mereka hanya kembali kepada al-Quran, tetapi meninggalkan tafsirnya (sunnah/hadis) terutama yang dirasakan bertentangan dengan akal fikiran, hawa nafsu dan lahir al-Quran yang berlandaskan akal perkiraan mereka.

Jika diperhatikan, punca yang menjerumuskan mereka ke dalam hal ini adalah tidak adanya pada mereka pengetahuan tentang ilmu agama secara yang sempurna dan meninggalkan manhaj para salaf as-Soleh (golongan awal). Mereka adalah sebuah hizbi yang sangat sungguh-sungguh dalam beribadah, solat, puasa, membaca al-Quran dan mempunyai semangat yang besar, akan tetapi mereka tidak faqih (faham) tentang agama Allah. Hal ini tentunya adalah suatu penyakit (kerosakan) bagi mereka.

Bersungguh-sungguh dalam ibadah dan wara’ haruslah disertai dengan ilmu dan pengetahuan tantang agama. Ketika Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihii wa-sallam menerangkan sifat-sifat Khawarij kepada para sahabat baginda, bahawa para sahabat solatnya lebih rendah dibandingkan solat Khawarij dan ibadah mereka lebih rendah dari ibadah Khawarij. Oleh yang demikian baginda bersabda:

يَمْرُقُوْنَ مِنَ الدِّيْنِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ.

“Mereka (Khawarij) keluar dari agama sebagaimana keluarnya anak panah dari sasarannya”. (H/R Bukhari (7432). Muslim (1064). Ahmad (111/73). An-Nasaii (2577). Abu Daud (7464) dan Ath-Thayalisi (2234))

Namun baginda tetap bersabda demikian padahal mereka (Khawarij) adalah kaum yang terkenal ibadahnya, kebaikan-kebaikannya dan solat malamnya. Akan tetapi kerana kesungguh-sungguhan mereka bukan di atas dasar yang benar (ikhlas) dan tidak di atas ilmu yang sahih, maka jadilah kesungguhan Khawarij itu sebagai bid’ah, fitnah dan keburukan yang menimpa mereka dan umat Islam.

KHAWARIJ MEMBENCI JAMAAH ISLAM

Kita tidak akan dapati bahawa Khawarij akan memerangi orang-orang kafir, tetapi mereka benci dan akan memerangi orang-orang Islam sebagaimana keterangan dari sabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam:

يَقْتُلُوْنَ اَهْلَ اْلاِسْلاَمِ وَيَدْعُوْنَ اَهْلَ اْلاَوْثَانِ.

“(Khawarij) akan membunuh orang Islam dan meninggalkan (membiarkan) penyembah berhala”. (H/R Bukhari (7432). Muslim (1064). An-Nasaii (2577). Abu Daud (7464) dan Ath-Thaylisi (2234))

Tidak pernah diketahui dalam sejarah bahawa Khawarij pernah memerangi kaum kuffar dan musyrikin, akan tetapi selamanya mereka hanya memerangi kaum muslimin. Mereka membunuh Khalifah Ali bin Abi Talib, Zubair bin Awwam dan sahabat-sahabat pilihan lainnya. Mereka sentiasa mengecuhkan dan membunuh kaum muslimin sampai sekarang. Ini semua terjadi kerana kejahilan mereka tentang agama Allah Azza wa-Jalla, walaupun mereka adalah kaum yang dikenali kuat beribadah dan wara’. Tetapi kerana semua ini tidak berlandaskan ilmu yang benar jadilah semua itu sebagai bencana bagi mereka.

Oleh kerana itu, al-Allamah Ibnu Qayyim rahimahullah menegaskan dalam mensifatkan golongan Khawarij:


وَلَهُمْ نُصُوْصٌ قَصَّرُوْا فِى فَهْمِهَا # فَاُتُوْا مِنَ التَّقْصِيْرِ فِى الًعِرْفَانِ

“Mereka hafal nas-nas namun dangkal pemahamannya # Sehingga mereka diberi kekurangan dalam ilmunya”.

Khawarij suka dan pandai berdalih, bertikam lidah, berbolak-balik atau berdalih dengan nas-nas al-Quran atau hadis, tetapi mereka tidak memahaminya. Mereka berdalil dengan nas-nas al-Quran dan as-Sunnah tentang ancaman bagi pelaku maksiat, tetapi mereka tidak faham maknanya dan tidak mahu melihat (kembali) kepada nas-nas lain yang terdapat janji tentang pengampunan dan taubat bagi si pelaku maksiat selain syirik. Mereka hanya mengambil satu bahagian dan meninggalkan bahagian-bahagian yang lain. Hal ini terjadi kerana kejahilan mereka.

Sebenarnya rasa kecemburuan dan semangat terhadap agama tidak mencukupi kerana keduanya harus berlandaskan ilmu. Dengan berlandaskan ilmu dan pemahaman tentang agama Allah Azza wa-Jalla semua perkara dapat diletakkan pada tempatnya.

Kecemburuan dan semangat terhadap agama adalah baik, akan tetapi harus dibimbing dengan mengikuti al-Kitab dan as-Sunnah. Tidak ada yang lebih cemburu terhadap agama dan tidak ada yang lebih banyak nasihatnya terhadap kaum muslimin daripada para sahabat radiallahu ‘anhum, walaupun demikian, mereka membunuh Khawarij kerana mereka tahu bahaya dan buruknya perbuatan dan sikap Khawarij.

Contohnya, Ali bin Abi Talib radiallahu ‘anhu dan para sahabat yang lain memerangi Khawarij sehingga beliau merupakan orang yang membunuh mereka dengan seburuk-buruk pembunuhan pada peristiwa “Hanran”. Peristiwa tersebut sebagai bukti terhadap apa yang dikhabarkan oleh Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam:

“Bahawa Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam memberikan khabar gembira bagi siapa sahaja yang membunuh Khawarij dengan kebaikan dan syurga”.

Maka Ali bin Abi Talib yang membunuh mereka sehingga beliau mendapat apa yang diberitakan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam. Beliau membunuh mereka untuk mencegah kejahatan mereka terhadap kaum Muslimin.

Oleh itu wajib bagi kaum muslimin disetiap zaman apabila mendapati kerberadaan golongan Khawarij yang buruk ini untuk segera menghilangkannya dengan cara menyeru mereka ke jalan Allah dan menjelaskan kepada manusia tentang hal tersebut, kemudian jika mereka tidak melaksanakan, maka perangilah mereka untuk menolak kejahatan yang ada pada mereka.

Ali bin Abi Talib radiallahu ‘anhu pernah mengutus kepada Khawarij anak pamannya iaitu Abdullah bin Abbas, orang yang paling alim dan penafsir al-Quran untuk berdebat dengan mereka. Berkat pertolongan Allah, sebahagian mereka kembali bersama dan taat kepada Khalifah Ali iaitu sejumlah 6000 orang. Bakinya yang banyak tidak kembali ke jalan kebenaran, sehingga diperangi oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Talib berserta para sahabat untuk mencegah kejahatan dan gangguan mereka terhadap kaum Muslimin. (Semua teks dalam tajuk “Siapakah Yang Dinamakan Khawarij” ini dinukil (disalin) dari kitab “Lamhah ‘Anil Firaq ad-Dalalah”. Oleh Syeikh Solih bin Fauzan al-Fauzan)

SENJATA KHAWARIJ

Sememangnya syariat Allah Subhanahu wa-Ta’ala diturunkan semata-mata hanyalah untuk dilaksanakan dan dijadikan rujukan hukum ahkam akidah dan ibadah bagi semua manusia kerana Allah Azza wa-Jalla telah berfirman:

وَاَنِ احْكُمْ بِيْنَهُمْ بَمَا اَنْزَلَ اللهُ.

“Dan hendaklah engkau memutuskan hukum antara mereka menurut yang yang telah diturunkan Allah”. Al-Maidah, 49.


فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ حَتَّى يُحَكِّمُوْكَ فِيْمَا شَجَرَ بِيْنَهُمْ.

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman sehingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan”. An-Nisa, 65.

Namun, laungan golongan Khawarij atau yang sefahaman dengan mereka menyerukan tauhid hakimiyah melalui tafsiran hawa nafsu dan akal fikiran mereka yang sempit demi untuk mencapai matlamat jahat mereka. Alasan mereka untuk mendirikan Daulah Islamiyah dan melaksanakan hukum Allah.

Perlu diketahui, sama ada disedari atau tidak disedari oleh mereka yang terperangkap oleh perangkap Khawarij, sebenarnya tujuan golongan ini bukanlah untuk mengajar kaum muslimin tentang tauhid yang dibawa oleh para nabi dan para rasul atau untuk berhukum dengan hukum Allah, melainkan hanyalah sebagai senjata politik mereka untuk mencapai tujuan dan matlamat mereka yang keji, iaitu takfir (pengkafir dan mengkafirkan) bagi sesiapa yang tidak masuk ke dalam jamaah dan perjuangan mereka.

Segala usaha dan tipu daya para penyeru tauhid hakimiyah yang sedang diperjuangkan oleh golongan hizbi dan haraki yang lebih dikenali sebagai Khawarij dan Muktazilah gaya baru ini (istilah “khawarij dan muktazilah gaya baru” ini adalah merujuk kepada kenyataan yang diutarakan oleh sheikh Nashiruddin al-Albani), ialah dengan mempersempit pengertian dan maksud tauhid hakimiyah, sehingga mengidentitikan hanya dalam satu masalah sahaja, iaitu melaksanakan hudud secara politis.

Dengan kata lain, kononnya untuk menegakkan hakimiyah (kekuasaan hukum Allah) di muka bumi, tetapi hanya difokaskan pada pelaksanaan hukum pidana, penerapan hukum-hukum sosial politik dan menafsirkan dalil-dalil syara’ mengikut penafsiran mereka yang telah disalah ertikan yang semata-mata bertujuan untuk menentang penguasa dan pemerintah Islam yang dianggap tidak berhukum dengan hukum Allah. Inilah antara kesalahan di segi akidah dan manhaj (prinsip) yang paling besar yang telah mereka lakukan.

Adapun laungan jihad dan teriakan “Allahu Akbar” di samping tauhid hakimiyah yang diserukan oleh kelompok hizbi haraki Khawarij dan Muktazilah gaya baru ini, tidak lain hanya bertujuan meraih kekuasaan atau menuntut pemerintahan sahaja.

HAKIMIYAH ALA KHAWARIJ

Kebanyakan pejuang, penggerak dan penyeru tauhid hakimiyah ala Khawarij dan Muktizalah, kebiasaannya mengenepikan masalah akidah yang sebenar dan asas (tauhid, uluhiyah, tauhid rububiyah dan tauhid asma wa-sifat), menyelewengkan tujuan dakwah dan tarbiyah serta bertopeng di sebalik perilaku dan kesopanan dalam perjuangan mereka, tetapi hakikat yang sebenarnya mereka adalah serigala yang tidak pernah puas dengan mangsa-mangsanya. Mereka sengaja melepaskan (mengenepikan) persoalan asas akidah dari pengamatan politik lantaran matlamat mereka secara politis agar umat Islam mendapatkan kekuasaan, sekalipun cara untuk mencapainya melalui jalan yang tidak berdasarkan hukum Islam yang sebenarnya. Lalu mereka mengabaikan isu-isu dan persoalan kesyirikan serta pemahaman (penerapan) dasar-dasar ilmu yang sebenar. Mengabaikan kejahilan masyarakat dan diri sendiri. Hanyut dalam perjuangan yang bertopengkan menegakkan “daulah Islamiyah” yang didirkan atas dasar nafsu dan emosi.

Mereka menekankan bahawa melaksanakan hukum Allah hanya dibebankan kepada pemerintah sahaja, sehingga perjuangan mereka menitik-beratkan bagaimana cara menjatuhkan seseorang penguasa (pemerintah) yang mereka nilai secara tafsiran mereka sendiri tidak melaksanakan hukum Allah, kafir, zalim atau fasik. Tafsiran seperti ini amat bertentangan dengan penafsiran Ahli Sunnah wal-Jamaah yang bermanhaj Salaf as-Soleh.

Golongan Khawarij mengwujudkan gerakan-gerakan untuk menghidup dan menegakkan tauhid hakimiyah dengan cara-cara yang bid’ah. Mereka mendakwa jika seseorang penguasa dijatuhkan kemudian digantikan dengan seorang Imam, maka rakyat akan berubah menjadi muslim. Maka mereka mengukur keislaman seseorang dan pemerintah Islam hanya pada segi perlaksanaan hukum (sebagai contoh - terutamanya hudud).

Dari penerangan di atas, jelaslah amat berbeza pemahaman para ulama Ahli Sunnah wal-Jamaah yang bermanhaj Salaf as-Soleh tentang pengertian tauhid (akidah) dengan pemahaman Khawarj, kerana manhaj Salaf as-Soleh menyeru semua lapisan masyarakat untuk melaksanakan hukum Allah sebagai ibadah di setiap sendi kehidupan mereka, bermula dari masalah membangun ummah rohani dan kebendaan, etika kebersihan (bersuci) sehinggalah yang besar seperti akidah, pengurusan dan pembentukan Daulah Islamiyah, iaitu dengan dakwah dan nasihat yang lemah-lembut, amar makruf nahi mungkar. Di samping itu semua, menjaga kehormatan dan maruah pemerintah, harga diri serta darah kaum Muslimin.

Perlu disedari bahawa seruan dakwah Islamiyah secara syumul ditujukan kepada semua lapisan manusia, sama ada pemerintah, rakyat biasa, lelaki, wanita, orang tua, orang muda dan yang miskin atau kaya. Firman Allah:

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَاْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar serta beriman kepada Allah”. Ali Imran, 3:110.

DEMONSTRASI PERTAMA DALAM SEJARAH ISLAM

Kejadian terbunuhnya Amirul Mukminin Uthman bin Affan radiallahu ‘anhu dan tercetusnya pemikiran, harakah dan firqah Khawarij sangat erat hubungannya dengan demonstrasi. Ini menunjukkan bahawa perbuatan mengadakan demonstrasi pertama dalam Islam adalah bid’ah ciptaan Khawarij. Kronologis menyayat hati yang menyebabkan terbunuhnya Uthman adalah berpunca dari protes, demonstrasi dan isu-isu tentang keburukan Khalifah Uthman yang berpangkal dari golongan Khawarij. (Lihat: *Demonstrasi Bukan Jihad Tapi Maksiat. Rasul bin Dahri.)

MELAKSANAKAN HUKUM ALLAH

Pemahaman Hizbi Haraki (kolompok pengerak) Khawarij dan Muktazilah amat berbeza dengan pemahaman Ahli Sunnah wal-Jamaah tentang berhukum dengan hukum Allah. Menurut manhaj Ahli Sunnah wal-Jamaah yang mengikut jalan Salaf as-Soleh, bahawa kewajipan dan tanggung jawab melaksanakan dan menegakkan hukum ahkam Allah terkena kepada semua peringkat. Ia diwajibkan (sama ada yang wajib ‘ain atau kifayah) kepada penguasa (pemerintah/pemimpin), umat dan individu. Ini berdasarkan hadis Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa-sallam:


اَلاَ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، فَاْلاِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، وَالْمَرْاَةُ رَاعِيَةٌ فِى بَيْتِ زَوْجِهَا وَهِيَ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَاعِيَّتِهَا ، وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.

“Ketahuilah! Sesungguhnya setiap kamu adalah penanggungjawab, setiap kamu dipersoalkan (ditanya oleh Allah) tentang apa yang menjadi tangung jawabnya. Seorang Imam (pemimpin) adalah penanggungjawab, ia akan ditanya tentang apa yang menjadi tanggungjawabnya, seorang lelaki adalah penanggungjawab, ia akan ditanya tentang apa yang menjadi tanggungjawabnya. Seorang perempuan adalah penanggungjawab dalam rumah suaminya, ia akan ditanya tentang apa yang menjadi tanggung jawabnya. Seorang khadam (pekerja/kuli) adalah penanggung jawab terhadap harta majikannya, ia akan ditanya tentang apa yang menjadi tanggung awabnya”. (Hadis Muttafaq ‘Alaihi.)

Melalui hadis di atas ini, setiap mukmin sewajarnya tahu, bahawa menegakkan hukum Allah ‘Azza wa-Jalla tertimpa kepada semua umat, bukan hanya setakat pemerintah, pemimpin atau individu tertentu sahaja.

PANDANGAN ULAMA TERHADAP HAKIMIYAH

Menurut para ulama Ahli Sunnah wal-Jamaah yang bermanhaj Salaf as-Soleh, jika tauhid hakimiyah ini dijadikan bahagian tauhid yang tersendiri atau sebagai tambahan kepada tiga tauhid yang sudah dikenali iaitu tauhid rububiyah, uluhiyah dan tauhid asma wa-as-sifat wa-azzat, maka ia adalah suatu perbuatan yang jelas muhadas (bid’ah yang diada-adakan) yang diharamkan oleh syara. Kerana tidak pernah difatwakan oleh seorang pun para imam yang muktabar. Syeikh Safwat Nuruddin berkata:

“Sesiapa yang berpendapat bahawa tauhid hakimiyah sebagai bahagian terpisah dari bahagian-bahagian (tauhid rububiyah, uluhiyah dan asma wa-sifat) dan akidah, maka itu adalah pendapat yang tidak tepat. (Syeikh Safwat Nuruddin adalah ketua Jam’iyah Ansar us Sunnah Mesir.)

Tauhid hakimiyah yang tidak diperasani dan dikenali oleh kebanyakan masyarakat Islam Nusantara akan kebatilannya, sama ada hakikat ajaran atau perjuangannya, terutama yang belum pernah mendengar kalimah ini (tauhid hakimiyah), maka oleh itu, mulai sekarang mereka perlu mengetahui dan mengenalinya, bahawa tauhid hakimiyah ini sengaja diada-adakan oleh puak Khawarij semata-mata untuk tujuan politik dan dijadikan sebagai syi’ar atau senjata politik untuk mendapatkan sokongan rakyat dan meramaikan pengikut yang bertujuan untuk menjatuhkan pemerintahan Islam.

Ideologi Khawarij sejak dizaman Khalifah Ali radiallahu ‘anhu, sentiasa dihidupkan oleh hizbi-hizbi (parti politik atau golongan anti pemerintah Islam) yang diistilahkan oleh Syeikh Nasruddin al-Albani rahimahullah sebagai Khawarij Gaya Baru (KGB).

APA ITU TAUHID HAKIMIYAH?

Tauhid hakimiyah yang dimaksudkan oleh Khawarij mempunyai beberapa tafsiran dan definisi, antaranya:

Menafsirkan kalimah tauhid atau kalimah ikhlas iaitu: (لااله الا الله) kepada makna: Tidak ada hakim selain Allah atau tidak ada yang menentukan takdir selain Allah. Dengan dasar ini puak Khawarij yang dahulu dan yang aktif semula sekarang ini mudah mengkafirkan (menghukum kafir mutlak atau syirik) kepada sesiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah. Menurut mereka: Batal (tidak sah) akidah tauhid sesiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah. Adapun tujuan mereka dari laungan dan propaganda ini tidak lain hanyalah sebagai senjata politik dan pelengkap di’ayah politik mereka yang mungkar. Inilah juga ciri-ciri khas hizbi-hizbi (parti) yang ada pada hari ini untuk menjatuhkan pemerintah Islam dan memecah-belahkan umat Islam.

Pengertian hakimiyah diambil dari penafsiran yang diselewengkan terhadap ayat: (ان الحكم الا لله) bermakna: “Tidak ada hukum kecuali milik Allah”. Di zaman Ali radiallahu ‘anhu puak Khawarij menggunakan kalimah ini sebagai propaganda dan perantara untuk menghalalkan pemberontakan terhadap pemerintahan Khalifah Ali radiallahu ‘anhu dan mengangkat senjata memerangi para sahabat. Pada zaman ini puak Khawarij kembali menggunakan kalimah ini (tauhid hakimiyah) untuk mengkafirkan para penguasa Islam, menghalalkan darah dan pemberontakan.

Tauhid hakimiyah ini dipetik melalui penafsiran yang salah tentang firman Allah: (وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا اَنْزَلَ اللهُ فَاُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُوْنَ) “Sesiapa yang tidak berhukum dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah maka mereka adalah orang-orang yang kafir”.

Dari ayat ini, golongan Khawarij dan mereka yang sefahaman dengannya terutama Muktazilah dalam pola pemikiran politiknya, termasuklah KGB (Khawarij Gaya Baru) yang bermunculan dewasa ini, mereka mengkafirkan sesiapa yang tidak sefahaman dengan mereka atau yang tidak berjuang dengan mereka dan sesiapa sahaja yang tidak mentaati hukum Allah Subhanahu wa-Ta’ala (tidak berhukum dengan hukum Allah), sama ada pemerintah, lembaga-lembaga yang berkaitan dengan pemerintah, jamaah atau individu.

Hakikatnya, laungan, seruan atau propaganda tauhid hakimiyah dewasa ini yang diserukan oleh hizbi-hizbi (parti politik yang bertopengkan Islam) hanya semata-mata untuk menggerakkan harakah politik yang bid’ah dan bukanlah politik Islam (siasah Islamiyah) yang sebenar.

PENGERTIAN POLITIK (SIASAH)

Politik yang dalam Bahasa Arab disebut “Siasah”, secara harfiahnya dapat dimaksudkan sebagai mengurus atau memimpin sebagaimana sabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam:

كَانُوْا بَنُوْا اِسْرَائِلَ يَسُوْيُهُمْ اَنْبَيَاءُ هُمْ.

“Adapun Bani Israil dipimpin oleh para nabi mereka”. (H/R Bukhari dan Muslim)

Secara syar’i pula politik (siasah) diertikan sebagai mengelola segala kepentingan rakyat dalam lingkup negara dengan cara-cara yang dapat menjamin ter-realisasinya kemaslahatan umum, dan menghindarkan segala macam kerugian dengan jalan yang tidak melanggar syariat Islamiyah melalui kaedah-kaedah asasinya, sekalipun tidak sejalan dengan pendapat para tokoh mujtahid. (Lihat: Madarikun nadar fis siasah. Syeikh Abdul Malik al-Jazair. Tahqiq Syeikh Nashiruddin al-Albani)

Antara yang dimasukkan ke bidang politik (siasah) ialah hukum ahkam (juga perundangan) pemerintah, pengadilan, selok-belok kementerian, lembaga-lembaga pemerintah, urusan ketenteraan (termasuk kepolisan) dan sebagainya. (Lihat: Al-Ahkamus Sultaniyah. Al-Mawardi) Para pemimpin (Ulil Amri) yang mampu berijtihad untuk melakukan kebajikan politik (siasah syariah) tidak terikat pada pendapat para imam terdahulu. Kerana kebajikan politik adalah usaha untuk mengwujudkan kepentingan umum (rakyat) yang tidak ditetapkan secara khusus oleh agama, sebaliknya hanya diberikan pendoman umum. Contohnya, penulisan al-Quran dalam satu mushaf pada masa Khalifatur Rasyidin. Semua catitan ayat-ayat al-Quran lainnya dibakar setelah mushaf sempurna ditulis. (Lihat: I’lamul Muqiin) Perkara ini dilakukan berdasarkan prinsip kepentingan umum.

Ibn Nujaim berkata:

“Politik (siasah) secara syari atau akli (akal), disepakati wajib hukumnya” (Lihat: Madarikun Nadar Fi Siasah. Hlm. 14), lantaran masalah kehidupan manusia tidak akan berjalan dengan teratur tanpa adanya siasah dan pemimpin. Sama ada pemimpin tersebut adil atau zalim. Dalam sebuah kata-kata hikmah telah disebutkan:

“Sultan (pemimpin/pemerintah) yang zalim lebih baik dari pada kekacauan (huru-hara) yang berterusan (kerana tidak ada pemimpin)”. (Lihat: Raudhatul Uqala. Hlm. 270)

Syeikhul Islam Imam Ibn Taimiyah rahimahullah berkata:

“Seseorang itu sewajarnya mengetahui bahawa mengurus (mengatur) persoalan kehidupan manusia merupakan kewajiban agama yang tertinggi, malah agama dan dunia tidak akan sempurna tanpa siasah”. (Lihat: Madarikun Nadar Fis Siasah. Hlm. 14)

Sememangnya manusia tidak berdaya mengurus kepentingan mereka dengan baik jika tidak bersatu di bawah satu siasah dan seorang pemimpin (pemerintah). Kewajipan amar makruf dan nahi mungkar tidak akan terlaksana tanpa adanya kekuatan siasah dan kepemimpinan (pemerintah). Oleh itu para ulama sewajarnya bersatu di bawah naungan pemimpin untuk amar makaruf dan nahi mungkar. Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa-sallam telah menjelaskan hakikat perkara ini:

اِنَّ السُّلْطَانَ ظِلُّ اللهَ فِى اْلاَرْضِ فَمَنْ اَهَانَهُ اَهَانَهُ اللهُ وَمَنْ اَكْرَمَهُ اَكْرَمَه الله.

“Sesungguhnya seorang pemerintah itu adalah naungan Allah di bumi, sesiapa menghinanya, maka Allah akan menghina dia dan sesiapa yang memuliakannya, nescaya Allah akan memuliakan dia”. (Hadis sahih riwayat Ibnu Abi ‘Asim, Ahmad, At-Thoyalisi, Turmizi dan Ibnu Hibban. Disahihkan juga oleh Syeikh al-Albani dalam “Ad-Dhilal (1017) dan (1023) dan lihat: As-Sahih (2297))

لاَ تَسُبُّوْا اُمَرَاءَ كُمْ وَلاَ تَغِشُّوْهُمْ وَلاَ تَبْغَضُوْاهُمْ وَاتَّقُوْا الله وَاصْبِرُوْا فَاِنَّ اْلاَمْرَ قَرِيْبٌ.

“Janganlah kamu mencela pemimpin-pemimpin kamu, janganlah kamu dengki kepada mereka dan janganlah kamu membenci mereka, bertaqwalah kepada Allah dan bersabarlah, sesungguhnya perkaranya adalah dekat”. (Hadis sahih riwayat Ibnu Abi ‘Asim. Disahihkan oleh al-Albani. Lihat: Ad-Dhilal, hlm. 474 (1015))

FATWA PARA ULAMA

Para ulama terutamanya dari kalangan ulama yang bepegang kepada manhaj Salaf as-Soleh, mereka menegaskan bahawa tauhid hakimiyah adalah sesuatu yang muhdas (bid’ah). Tauhid hakimiyah ternyata digunakan oleh golongan Khawarij dahulu dan Khawarij masa kini untuk mengajak kepada hizbi, politik kotor, perpecahan, demonstrasi, pemberontakan dan revolusi. Yang mana akhirnya mengkafirkan sesiapa sahaja yang tidak menerima dasar dan teori tauhid hakimiyah yang mereka amal dan propagandakan walaupun apa yang mereka lakukan tidak mengatas-namakan tauhid hakimiyah.

Antara para ulama yang menolak (mengharamkan) dan menganggap bid’ah tauhid hakimiyah ciptaan Khawarij ini ialah:

(1). Abdullah As-Sabt. Menurut beliau bahawa teori tauhid hakimiyah ialah:

“Kalimah yang hak, tetapi yang dikehendaki adalah kebatilan”.

Ia dijadikan tauhid yang keempat oleh puak Khawarij, sedangkan pembahagian para ulama Ahli Sunnah wal-Jamaah yang bermanhaj Salaf as-Soleh bahawa tauhid hanya terbahagi kepada tiga, iaitu: Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Asma wa-Sifat. Mencipta tauhid hakimiyah merupakan penyelewengan dari manhaj Ahli sunnah wal-Jamaah yang bermanhaj Salaf as-Soleh dalam beberapa permasalahan, kerana hakimiyah digunakan untuk mengajak kepada pemberontakan dan revelosi. Ini adalah cara dan tujuan Khawarij terdahulu yang sudah usang.

(2). Syeikh Soleh bin Ghanim As-Sadlan berkata tentang penafsiran kalimah tauhid kepada tauhid hakimiyah: Adapun jika kamu katakan bahawa (لااله الا الله) dengan makna “Tidak ada hakim selian Allah atau Tidak ada yang menentukan takdir selain Allah” maka ini adalah penafsiran yang menyimpang. Namun, jika seseorang yang mengucapkannya dan menafsirkannya dengan maksud pengikraran terhadap tauhid ibadah atau uluhiyah, yang Allah mengutus para rasul kerananya, maka ini adalah pengikraran yang benar.

Oleh kerana itu, dalam keadaan apa pun kita tidak boleh meyakini bahawa makna kalimah (لااله الا الله) bukanlah bermakna (لا حاكم الا الله) “Tidak ada hakim selain Allah” (Syeikh Soleh bin Ghanim as-Sadlan, seorang pensyarah di Universiti Imam Muhammad bin Su’ud al-Islamiyah (Saudi Arabia) kerana penafsiran ini adalah penafsiran yang menyimpang. Oleh itu hakimiyah tidak boleh dipisahkan dari tauhid uluhiyah atau menjadi tauhid yang menyendiri.

Syeikh Soleh as-Sadlan seterusnnya menjelaskan: Sesiapa yang menjadikan tauhid al-Hakimiyah sebagai bahagian keempat dari pembahagian tauhid, maka boleh jadi dia adalah seorang yang jahil atau seorang pembuat bid’ah yang mengambil pendapat ahli falsafah dan orang-orang yang tidak mempunyai ilmu tentang akidah dan syariah. Atau boleh jadi dia orang yang menyalin perkatan orang lain, tetapi dia tidak mengetahui apa yang dia ambil.

SIAPA PENCETUS TAUHID HAKIMIYAH?

Orang yang pertama kali mengucapkan (لا حاكم الا الله) “Tidak ada hukum (hakim) kecuali bagi Allah, iaitu bermaksud tauhid hakimiyah adalah golongan Khawarij. Golongan ini memberontak terhadap Ali bin Abi Talib radiallahu ‘anhu setelah perkara tahkim (penghakiman) berlaku, yang mana Abu Musa al-Asy’ari dan Amr bin Al’Ash berhukum dengan perkara tahkim sebagaimana yang dikehendaki oleh Khalifah Ali bin Abi Talib radiallahu ‘anhu dan yang telah disepakati oleh para sahabat radiallahu ‘anhum.

Kemudian berlaku pemberontakan yang dilakukan oleh satu kelompok dari pasukan Ali yang dikenali sebagai Khawarij dengan berhujjahkan: (لا حاكم الا الله) “Tidak ada hakim selain Allah”. Maka Ali mengatakan kepada mereka كَلِمَةُ الْحَقِّ اَرَادَ بِهَا البَاطِل “Kalimah yang hak, namun yang dikehendaki ialah kebatilan”.

Sememangnya ucapan kalimah “La Hakima Illallah” adalah hak kerana berdasarkan firman Allah:


وَاَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا اَنْزَلَ اللهُ.

“Dan hendaklah engkau menghukumi antara mereka dengan apa-apa yang telah diturunkan oleh Allah”. Al-Maidah, 49.


اَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللهِ حُكْمًا لِقَوْمِ يُوْقِنُوْنَ.

“Apakah Hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin”. Al-Maidah, 50.

Walaupun kalimah di atas ini adalah kalimah yang hak (benar) kerana landasannya al-Quran, tetapi apabila ditafsir dan digunakan secara salah dan ekstrim dalam penerapannya yang bertujuan untuk kepentingan politik, maka hal ini jauh dari kebenaran dan petunjuk Allah Subhanahu wa-Ta’ala.

Dari kalimah yang dilaungkan oleh golongan Khawarij inilah (yang bererti tauhid hakimiyah) terjadinya fitnah besar seperti menyeru mengadakan demonstrasi, pemberontakan, perpecahan, saling kafir mengkafirkan (takfir) dan berlakunya pertumpahan darah sesama umat Islam.

Akidah tauhid hakimiyah ini telah dihidup-suburkan semula di zaman moden ini oleh golongan Khawarij Gaya Baru (KGB). Maksud dan matlamat mereka adalah sama dengan tujuan dan matlamat Khawarij zaman Khalifah Uthman dan Khalifah Ali radiallahu ‘anhuma, iaitu caranya bermula dengan hasutan, menghancurkan tradisi atau budaya, membuat fitnah dan demonstrasi. Kemudian apabila mendapat sokongan atau pengikut yang ramai, maka diwujudkan penentangan terhadap pemerintah secara terang-terangan, pemberontakan dan pengkafiran terhadap pemerintah Islam yang akhirnya akan berlaku pepecahan dan pertumpahan darah.

Khawarij dahulu dan Khawarij sekarang (KGB) tetap sama. Mereka memisahkan diri dari pemerintah secara memainkan isu pengkafiran. Mereka mengkafirkan pemerintah dengan berhujjahkan: لاَ حَاكِمَ اِلاَّ الله sebagaimana yang mereka telah lakukan dengan mengkafirkan Khalifah (Amirul Mukminin Ali radiallahu anhu) dan para penguasa yang menyebelahi Khalifah Ali dengan melaung-laungkan hujjah tersebut (tauhid hakimiyah), sehingga dengan berani mengatakan kepada Ali radiallahu ‘anhu:

“Engkau telah keluar dari agama Islam, maka hendaklah engkau mengakui bahawa engkau telah kafir, bertaubatlah engkau setelah itu barulah kami membaiat engkau”.

FATWA ULAMA TENTANG KHAWARIJ

Dari kata-kata (kalimah) keterlaluan yang diucapkan oleh Khawarij inilah maka para ulama Ahli Sunnah wal-Jamaah yang bermanhaj Salaf as-Soleh, mereka menghukum bahawa golongan Khawarij dan sesiapa sahaja yang berpegang dengan fahaman atau manhaj Khawarij, maka ia termasuk dalam golongan yang terkeluar dari millah Islamiyah.

HUKUM MENGKAFIRKAN PEMERINTAH ISLAM

Sekarang ini, telah muncul semula beberapa orang yang menyerukan seruan (Khawarij iaitu) al-Hakimiyah atau tauhid hakimiyah di negara kita ini. Seruan dan propaganda ini mendapat sokongan dari sebahagian besar orang-orang bodoh yang mengakibatkan berlaku kemungkaran, kerana timbul hukum pengkafiran terhadap orang-orang yang berbuat maksiat, sama ada mereka pemerintah atau rakyat. Mereka mengambil dalil untuk yang demikian ini melalui firman Allah Azza wa-Jalla: (Lihat: Penjelasan Syeikh Jamal al-Murakibi, anggota Lajnah Fatwa Jam’iyah Ansar as-Sunnah, Kahirah, Mesir dalam Harian al-Muslimun, Kuwait, no 639. Jumaat 25 Dzulhijah 1417H. 2hb. May, 1997)

وَمنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا اَنْزَلَ اللهُ فَاُوْلِئِكَ هُمُ الْكَافِرُوْنَ.

“Sesiapa yang tidak berhukum dengan apa yang telah diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir”. Al-Maidah, 44.

Golongan Ahli sunnah wal-Jamaah yang bermanhaj Salaf as-Soleh, mereka tidak pernah mengkafirkan orang yang tidak berhukum dengan apa-apa yang diturunkan Allah, kecuali apabila ia menentang hukum Allah tersebut dalam erti menolak hukum Allah padahal dia sudah benar-benar mengetahuinya. (Lihat: Penjelasan Syeikh Jamal al-Murakibi, anggota Lajnah Fatwa Jam’iyah Ansar as-Sunnah, Kahirah, Mesir dalam Harian al-Muslimun, Kuwait, no 639. Jumaat 25 Dzulhijah 1417H. 2hb. May, 1997)

Menurut keyakinan Ahli Sunnah wal-Jamaah yang berpegang kepada manhaj salaf as-Soleh bahawa kafir (kufur) itu dua jenisnya sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama usuluddin:

Pertama: Kufur Amal. Iaitu kufur kerana meninggalkan amal-amal yang wajib tetapi masih meyakini kewajipannya. Maka sesiapa sahaja yang meninggalkan suruhan (perintah) yang wajib dengan sengaja tetapi masih beriman dengan kewajipan tersebut, maka ia dihukum kufur asghar (كفر اصغر) “kufur kecil” yang tidak membatalkan akidahnya.

Kedua: Kufur (جحود) “Kufur Menentang” atau Kufur (عناد) “Kufur Membangkang”. Iaitu menentang hukum dengan keyakinan dan bermati-matian. Berkata Imam Az-Zahabi rahimahullah:

اِنَّمَا يكفرُ بَعْدَ عِلْمِهِ بِاَنَّ الرَّسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ذَلَكَ ثُمَّ اِنَّهُ جَحَدَ ذَلَكَ، وَلَمْ يُؤْمِنْ بِهِ.

“Sesungguhnya (seseorang itu boleh) dikafirkan setelah ia mengetahuinya bahawasanya ia adalah sabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam, kemudian benar-benar menentangnnya dan tidak beriman dengannya”. (Lihat: العلو للعلي العظيم hlm. 214)

Al-Hafiz Imam Az-Zahabi rahimahullah menghukumkan kafir kepada seseorang itu apabila berlaku dua sebab, iaitu:

Pertama: Apabila dia benar-benar menentang/membantah hukum Allah. Dan Kedua: Apabila dia tidak beriman dengan (hukum) yang diwahyukan oleh Allah Subhanahu wa-Ta’ala dan menolak sunnah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam.

Sebagai penutup, dibawakan hadis Rasulullah sallallahu ‘alihi wa-sallam dan fatwa Syeikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ اَطَاعَنِيْ فَقَدْ اَطَاعَ اللهَ ، وَمَنْ يُعْصِنِيْ فَقَدْ عَصَى اللهَ ، وَمَنْ يُطِعِ اْلاَمِيْرَ ، فَقَدْ اَطَاعَنِيْ وَمَنْ يُعْصِ اْلاَمِيْرَ ، فَقَدْ عَصَانِيْ.

“Telah bersabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam: Sesiapa yang mentaati aku, sesungguhnya dia telah mentaati Allah. Sesiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya dia telah mendurhakai Allah. Sesiapa yang mentaati pemimpin sesungguhnya dia telah mentaati aku dan sesiapa yang durhaka kepada pemimpin sesunguhnya dia telah durhaka kepadaku”. (Lihat: H/R Muslim. Syarah Nawawi. Juz. 12. Hlm. 223.)

Fatwa Syeikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah:

“Maka mentaati Allah dan RasulNya adalah wajib bagi setiap orang, begitu juga mentaati pemimpin Muslim adalah wajib kerana adanya perintah Allah untuk mentaati mereka. Sesiapa yang taat kepada Allah dan RasulNya dengan mentaati para pemimpin Muslim, pahalanya adalah atas Allah dan siapa yang tidak mentaati mereka (para pemimpin Muslim) kecuali untuk memperolehi (dari pemerintah) satu kekuasaan (jawatan) dan harta semata, Jika mereka (para pemimpin tersebut) memberinya dia mentaatinya dan jika memberinya dia durhaka padanya, maka tidak ada kebahagian baginya di akhirat kelak”. (Lihat: مجموع فتاوى ابن تيمية Jld. 35. Hlm. 16-17)

وَبِاللهِ التَّوْفِيْقِ وَالْهِدَايَةِ ، واللهُ اَعْلَمْ ، وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالِمِيْنَ

Friday, June 29, 2007

011 - Uthman El-Muhamady MENGHINA IMAM AS-SYAFIE, MENIPU UMMAH & TIDAK AMANAH

Uthman El-Muhamady MENGHINA IMAM AS-SYAFIE, MENIPU UMMAH & TIDAK AMANAH

Daripada Blog:
http://bahaya-syirik.blogspot.com

Uthman El-Muhammady sangat mempertahankan, memperjuangkan dan membela yasinan dan tahlilan (termasuk kenduri arwah mengirim pahala untuk si Mati) yang dinasabkan kepada mazhab Syafieyah, kenyataan ini tidak dapat dinafikan kerana terpampang di muka akhbar Mingguan keluaran Ahad 27 November 2005.

Dalam hal yang dinyatakan oleh Uthman El-Muhammady, sebenarnya beliau bukan memerangi Wahhabi kerana dia tidak tahu siapa Wahhabi, tetapi sebenarnya beliau telah menghina dan menolak fatwa Imam Syafie kerana dia juga tidak kenal siapa Imam Syafie. Akibatnya dia menipu ummah, kerana jika dia mampu menyelidiki kitab-kitab besar para ulama ulung as-Syafieyah, pasti dia akan temui banyak fatwa-fatwa Imam Syafie dan para ulama besar Syafieyah mengharamkan dan membid’ahkan kenduri arwah, tahlilan, yasinan, mengirim pahala bacaan al-Quran kepada si Mati. Termasuklah jamuan di rumah si Mati pada hari kematian, dihari kedua, ketiga, ketujuh, keempat puluh, keseratus, setahun dan lebih dari itu.

Rujuklah ke dalam kitab I’anatu at-Talibin juz 2. hlm. 146, tercatit: Imam Syafie berfatwa:
ويكره اتخاذ الطعام فى اليوم الأول والثالث وبعد الأسبوع ونقل الطعام الى القبر فى المواسم.
“Dan dilarang menyediakan makanan pada hari pertama kematian, hari ketiga dan seterusnnya sesudah seminggu. Dilarang juga membawa makanan ke kuburan”.

Menurutnya lagi:

Haram mengadakan kenduri arwah, menikmati hidangan di rumah si Mati, terutama jika si Mati termasuk keluarga yang miskin, menanggung beban hutang, meninggalkan anak-anak yatim yang masih kecil dan waris si Mati mempunyai tanggungan perbelanjaan yang besar dan ramai. Tentunya tidak dipertikaikan bahawa makan harta anak-anak yatim hukumnya haram.

Di dalam kitab I’anatu at-Talibin jld. 2. hlm. 146 dan di halaman 147: Imam Syafie berfatwa:

وقال ايضا : ويكره الضيافة من الطعام من أهل الميت لأنه شرع فىاسرور وهي بدعة.
“Dibenci bertetamu dengan persiapan makanan yang disediakan oleh ahli si Mati kerana ia adalah sesuatu yang keji dan ia adalah bid’ah”.

Dan fatwanya lagi:

ومن البدع المنكرة المكرو فعلها ما يفعلها الناس من الوحشة والجمع والأربعين بل كل ذلك حرام
“Antara bid’ah yang mungkar ialah kebiasaan orang yang melahirkan rasa kesedihannya sambil berkumpul beramai-ramai melalui upacara (kenduri arwah) dihari keempat puluh (empat pulu harinya) pada hal semuanya ini adalah haram”.

Para Ulama Besar As-Syafieyah Semuanya Mengharamkan Tahlilan, Yasinan & Kenduri Arwah

Berkumpul-kumpul di rumah si Mati, sama ada kerana kenduri arwah, tahlilan dan yasinan, sama ada dihari pertama kematian, dihari ketiga, ketujuh, keempat puluh, keseratus, setahun dan dihari-hari seterusnya adalah perbuatan haram dan bid’ah menurut fatwa Imam Syafie dan para ulama besar Syafieyah. Akan diutarakan satu persatu nama-nama ulama besar yang bermazhab as-Syafie di dalam tulisan ini yang mengharamkan perbuatan tersebut yang dianggap sebagai bid’ah yang mungkar. Antara para ulama tersebut ialah:

(1). Imam Asy-Syairaziy As-Syafie, beliau berkata: “Dibenci berkumpul (di rumah si Mati) dengan alasan untuk takziyah, kerana itu adalah mengada-adakan yang baru, sedangkan mengada-adakan yang baru itu adalah bid’ah”. Lihat: Al-Majmu Syarah Muhazzab, hlm. 305-306.

(2). Al-Allamah Ahmad Zaini bin Dahlan menukil: “Tidak diragukan lagi bahawa mencegah manusia dari perbuatan bid’ah yang mungkar demi untuk menghidupkan sunnah dan mematikan bid’ah, membuka banyak pintu-pintu kebaikan dan menutup pintu-pintu keburukan, (jika dibiarkan bid’ah) setiap akan terdedah kepada kemungkaran sehingga memaksa diri mereka melakukan perkara yang haram”. Lihat: I’anatu at-Talibin juz 2. hlm. 145-146

Kenduri arwah, tahlilan dan yasinan bukan sahaja diharamkan di rumah-rumah, masjid-masjid, surau-surau atau dimanapun sehinggalah di perkuburan, termasuk hari khaul adalah diharam dan dibid’ahkan oleh Imam Syafie:

Berkata Imam Syafie: “Apa yang diamalkan oleh manusia dengan berkumpul dirumah keluarga si Mati dan menyediakan makanan adalah termasuk perbuatan bid’ah yang mungkar”. Lihat: I’anatu at-Talibin juz 2 hlm. 145.

Di dalam kitab fikh Hasiyahtul Qulyubi juz. 1 hlm. 353 atau di kitab Hasiyatani Qulyubi –Umairah. juz. 1 hlm. 414:

(3). Imam ar-Ramli rahimahullah (ulama besar bermazhab Syafie) berfatwa: “Antara perbuatan bid’ah yang mungkar dikerjakan ialah sebagaimana dijelaskan di dalam “Ar-Raudah” 2/145, iaitu mengerjakan amalan yang disebut “kaffarah”, menghidangkan makanan agar dapat berkumpul di rumah si Mati, sama ada sebelum atau sesudah kematian, termasuklah bid’ah yang mungkar penyembelihan untuk si Mati, malah yang demikian itu semuanya haram terutama sekiranya dari harta yang masih dipersengketakan walau sudah ditinggalkan oleh si Mati atau harta yang masih dalam hutang atau seumpamanya”.

Di dalam kitab Al-Fiqh ‘Alal Mazhabil ‘Arb’ah jld.1 hlm. 539 dijelaskan tentang haramnya kenduri arwah: “Termasuk bid’ah yang dibenci ialah apa yang menjadi amalan orang sekarang, iaitu menyembelih beberapa sembelihan ketika si Mati telah keluar dari rumah. Ada yang melakukan sehingga kekuburan atau menyediakan makanan kepada sesiapa yang datang berkumpul untuk takziyah”.

(4). Imam Nawawi, , Imam Ibn Kathir, Imam ar-Ramli mereka menukil fatwa Imam as-Syafie: "Dan aku telah memakruhkan (mengharamkan) makan, iaitu berkumpul di rumah (si Mati) walaupun bukan untuk tangisan (ratapan)".

(5). Imam Ibn Hajar al-Asqalani: "Adapun menyediakan makanan oleh keluarga si Mati dan berkumpul beramai-ramai di rumah (si Mati) tersebut maka itu adalah bid'ah bukan sunnah". Dan lagi "Apa yang telah menjadi kebiasaan manusia menjemput orang dan menyediakan hidangan makanan oleh keluarga si Mati adalah bid’ah yang dibenci, termasuklah dalam hal ini berkumpul beramai-ramai di rumah keluarga si Mati kerana terdapat hadis sahih dari Jarir bin Abdullah berkata: Kami menganggap berkumpul beramai-ramai (berkenduri arwah) di rumah si Mati dan menyiapkan makanan sebagai ratapan". H/R Ahmad 2/204 dan Ibn Majah 1612 dengan sanad yang sahih dari jalan Ismail bin Abi Khalid dari Qais bin Abi Hazim. Lihat: I’anatu at-Talibin juz. 2 hlm. 146

Dalam hadis di atas ada kalimah “Kami menganggap/memandang”, ini menunjukkan ijmaknya para sahabat, maka ijmak sahabat adalah hujjah qati’ah (pemutus) yang tidak boleh ditolak. Maka bagaimana Uthman Muhammdy mengatakan amalan kenduri arwah berkumpul di rumah si Mati itu sunnah? Sedangkan nyata ia adalah bid’ah.

Uthman El-Muhammady mempertahankan amalan berkumpul di rumah si Mati atau dimana sahaja untuk yasinan, tahlilan dan kenduri arwah (dengan niat menghadiahkan pahala bacaan kepada orang mati) kerana beralasan dengan hadis yang mungkar, iaitu hadis: “Barangsiapa yang menziarahi kubur orang tuanya atau salah seorang dari keduanya pada hari Jumaat, kemudian membacakan surah Yasin, maka akan diampunkan dosanya". Hadis ini batil, palsu dan tidak ada asal usulnya. Dalam sanadnya ada si 'Amar pemalsu hadis, banyak meriwayatkan hadis batil. Daraqutni berkata: "Amar adalah seorang pemalsu hadis". Lihat: Kitab Al-Maudu’at, Juz 3 hlm. 239. Lihat: I’anatu at-Talibin. Juz 2. Hlm. 146.

(6). Imam Muzani yang sezaman dengan Imam Syafie mengharamkan menghadiahkan pahala bacaan kepada si Mati (sama ada cara yasinan, tahlilan atau kenduri arwah), beliau berkata: "Rasulullah s.a.w telah memberi tahu sebagaimana Allah memberi tahu: Bahawa dosa tiap-tiap orang adalah buat kecelakaan dirinya sendiri sebagaimana amalannya itu buat kebaikan dirinya sendiri bukan untuk kecelakaan orang lain".

Di jelaskan oleh Ibn Taimiyah: “Bukan menjadi suatu kebiasaan bagi para Salaf as-Soleh apabila mereka mengerjakan solat-solat sunnah, berpuasa, haji dan membaca al-Quran lalu pahalanya dihadiahkan kepada si Mati” Lihat kitab Ali Abdul al-Kafi as-Subki “Takmilatul Majmu”. Syarah Muhazzab jld. 10 hlm. 417. Imam an-Nawawi juga berkata: “Adapun bacaan al-Quran, yang masyhur dikalangan mazhab Syafie tidak sampai pahala bacaan yang dikirim kepada si Mati”. Lihat: Al-Khazin al-Jaml. juz. 4 hlm. 236 dan “Syarah Muslim” juz 1 hlm. 90.

(7). As-Subki ulama besar Syafieyah berfatwa: “Pembacaan al-Quran dan menghadiahkan pahalanya kepada si Mati, membayar solatnya dan sebagainya, maka menurut Imam Syafie dan jumhur ulama Syafie adalah tidak sampai kepada si Mati. Penjelasan seperti ini telah diulang-ulang (oleh Imam an-Nawawi) dalam kitab syarah Muslim”. Dan lihat: Takmilatul al-Majmu’ – Syarah al-Muhazzab di dalam kitab juz 10 hlm. 426

(8). Al-Haitami menjelaskan: “Mayat tidak boleh dibacakan al-Quran sebagaimana keterangan yang ditetapkan oleh orang-orang terdahulu, bacaan al-Quran pahalanya tidak sampai kepada si Mati, lantaran pahala bacaan hanya untuk si Pembaca. Pahala amalan tidak boleh dipindah-pindahkan dari si Pembuat berdasarkan firman Allah Ta’ala: Dan manusia tidak memperolehi pahala kecuali dari amalan yang dikerjakannya sendiri”. Lihat: Al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyah (dalam penjelasan perkara ini)

(9). Imam Syaukani (ulama tafsir) berkata: Seseorang tidak akan mendapat melainkan atas usahanya sendiri. Lafaz dalam ayat ini termasuk umum yang mukhasas, oleh itu tidak tepat kalau ada yang berkata bahawa ayat ini telah dimansuhkan dalam urusan ini, kerana yang khas tidak boleh memansuhkan lafaz umum, tetapi hanya sebagai takhsisnya sahaja. Maka apabila ada dalil lain yang boleh menentukan bahawa seseorang memperolehi manfaat dari amal orang lain, maka dalil itu sebagai takhsisnya bukan sebagai nasikh serperti ayat yang terdapat di surah ath-Thur: (Kami akan hubungkan dengan mereka itu anak cucu mereka)”.

Membaca al-Fatihah, Surah al- Ikhlas, al-Falaq, an-Nas,Yasin dan beberapa ayat lain secara beramai-ramai bertentangan dengan nas al-Quran, hadis-hadis sahih dan athar para sahabat. Firman Allah: “Apabila dibacakan al-Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat”. AL-A’RAF, 7:204.

Al-Quran bukan untuk dibacakan kepada si Mati, kerana orang mati tidak mampu mendengar perintah al-Quran, firman Allah: “Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang mati itu mendengar”. AN-NAML, 27:80.

“Tdak sama orang yang hidup dan orang yang mati, sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehendakiNya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang dalam kubur mendengar”.

Apabila seseorang mati, terputus dengan dunia kecuali tiga perkara, sebagaimana hadis: "Apabila mati seseorang insan, putuslah semua amalannya kecuali tiga perkara: Sedekah jariah, ilmu yang dimanfaatkan atau anak soleh yang mendoakannya." H/R Muslim.

Ibn Abbar berkata: Seorang lelaki datang kepada Nabi s.a.w bertanya: Ya Rasulullah! Ibuku telah meninggal sedangkan dia masih berhutang puasa sebulan belum dibayar, apakah boleh aku membayarnya untuk ibuku? Baginda menjawab: Andaikata ibumu menanggung hutang apakah engkau yang membayarnya? Beliau menjawab: Ya! Maka baginda bersabda: Hutang kepada Allah lebih patut dibayarnya”.

“Dari ‘Aisyah berkata: Bahawasanya seorang lelaki datang kepada Nabi s.a.w dan berkata: Wahai Rasulullah! Ibuku telah mati mendadak, sehingga dia tidak berkesempatan untuk berwasiat dan saya rasa andaikan ia mendapat kesempatan berkata tentu dia berwasiat. Adakah ia mendapat pahala jika aku bersedekah untuknya? Baginda menjawab: Ya!”.

Ibn Abbas berkata: Seorang perempuan Juhainah datang kepada Nabi s.a.w bertanya: Ibuku nazar akan mengerjakan haji, tetapi dia meninggal sebelum menunaikan nazarnya, boleh aku menghajikannya? Baginda menjawab: Ya, hajikan untuknya! Bagaimana sekiranya ibumu menanggung hutang, apakah engkau yang membayarnya? Bayarlah hak Allah, kepada Allah lebih layak orang membayarnya".

Ibnu Abbas berkata: Seorang lelaki menemui Nabi Muhammad s.a.w lalu bertanya: Ayahku telah meninggal dan belum mengerjakan haji, apakah boleh aku menghajikannya? Baginda menjawab: Bagaimana jika ayahmu meninggalkan hutang, apakah kamu yang membayarnya? Jawabnya: Ya! Baginda bersabda: Maka hajikanlah untuk ayahmu".

Ibn Abbas berkata: Ibu Sa'ad bin 'Ubadah meninggal sedang Sa'ad tidak ada. Lalu Sa'ad berkata: Wahai Rasulullah! Ibuku meninggal diwaktu aku tidak ada di rumah, apakah kiranya berguna baginya jika aku bersedekah? Baginda menjawab: Ya!. Berkata Sa'ad: Saya persaksikan kepadamu bahawa kebun kurma yang berbuah itu sebagai sedekah untuknya".

Dari Ibn Abbas: Seorang wanita suku Khasy'am menemui Nabi Muhammad lalu bertanya: Ya Rasulullah! Kewajipan Allah atas hambaNya berhaji telah menimpakan ayahku yang sangat tua sehingga tidak dapat berkenderaan, apakah boleh aku menghajikannya? Baginda menjawab: Ya boleh! Dan pertanyaan ini terjadi ketika haji al-Wada'.

Dari Abi Hurairah: Ada seorang lelaki menemui Nabi dan berkata: Ayahku telah meninggal, dia meninggalkan harta dan tidak berwasiat, maka apa berguna baginya jika aku bersedekah untuk dia? Jawab baginda: Ya!".

Al-Quran Untuk Yang Hidup. Bukan Untuk Si Mati

Menghadiahkan pahala bacaan al-Quran kepada si Mati, dihukum bid’ah, haram dan tidak sampai oleh para ulama besar as-Syafieyah. Mereka berdalilkan firman Allah: "Al-Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan supaya dia memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup”. YASIN, 36:69-70.

Kerana orang mati hanya bertanggungjawab di atas apa yang telah diamalkan oleh dirinya, kerana Allah berfirman: "Sesungguhnya seseorang itu tidak akan menanggung dosa seseorang yang lain dan bahawasanya manusia tidak akan memperolehi ganjaran melainkan apa yang telah ia kerjakan". AN NAJM, 53:38-39.

(10). Berkata Ibn Kathir bermazhab as-Syafie: "Melalui ayat ini, Imam Syafie dan para pengikutnya mengambil hukum bahawa pahala bacaan dan hadiah pahala tidak sampai kepada si Mati kerana bukan dari amal mereka dan bukan usaha meraka. Oleh kerana itu Rasulullah s.a.w tidak pernah mensyariatkan umatnya dan mendesak agar melakukan perkara tersebut".

Imam as-Syaukani menjelaskan: "Seseorang tidak mendapat melainkan balasan atas usahanya dan ganjaran amalan, ia tidak memberi manfaat kepada seseorang akan amalan orang lain."

Menurut Ibn Ka
thir ayat ini bermaksud: "Sebagaimana tidak dipikulkan dosa orang lain begitu juga ia tidak mendapat ganjaran melainkan apa yang telah ia kerjakan sendiri".

Ibn Kathir menegaskan: "Sesungguhnya manusia itu hanya menerima balasan menurut amalnya, jika baik maka baiklah balasannya, jika buruk maka buruklah balasannya". Dan
berkata lagi: "Tidak pernah disalin perkara (menghadiahkan bacaan kepada si Mati) walaupun seorang dari kalangan para sahabat radiallahu 'anhum. Jika sekiranya ia suatu yang baik pasti mereka telah mendahului kita melakukannya".

Imam at-Tabari menafsirkan ayat ini: "Bahawasanya seseorang itu tidak menerima balasan dari amalnya, melainkan apa yang telah dikerjakannya sendiri, sama ada itu baik atau buruk".

Imam
at-Tabari menjelaskan: "Tidak diseksa seseorang itu dengan sesuatu seksaan jika ia tidak mengerjakan dosa tersebut, dan tidak diberi ganjaran di atas amal soleh untuk orang yang tidak mengerjakannya ".

(11). Fakhuruddin ar-Razy bermazhab Syafie menafsirkan: "Sesungguhnya kebaikan orang lain tidak memberi manfaat kepada orang lain yang tidak melakukannya, sesiapa yang tidak beramal soleh ia tidak mendapat kebaikannya. Maka cukuplah dengan ayat ini sudah jelas bahawa orang yang berdosa tidak boleh mendapat ganjaran dengan sebab kebaikan orang lain dan tidak seseorangpun akan menanggung dosanya".

(12). Imam Jalalain bermazhab as-Syafie menegaskan: "Maka seseorang tidak akan mendapat apa-apapun dari usaha orang lain".

Menurut jumhur ulama tafsir, terutamanya Ibn Abbas: “Telah berkata ‘Aisyah ketika mendengar hal tersebut: Cukuplah bagi kamu ayat al-Quran. Bahawa kamu tidak (dipertanggung-jawabkan) untuk memikul dosa orang yang lain". H/R Bukhari dan Muslim.

Ibn Kathir menjelaskan: "Seseorang jiwa hanya dibalas menurut amalannya. Jika baik maka baiklah balasannya dan jika amalannya jahat maka jahatlah balasannya".
Setiap insan hanya menuai apa yang disemainya, firman Allah: "Sesiapa yang mengerjakan amal yang soleh maka untuk dirinya sendiri dan sesiapa berbuat kejahatan maka (dosa-dosanya) atas dirinya sendiri dan tidaklah Tuhanmu menganiaya hambaNya". FUSHILAT, 41:46

"Kamu tidak akan diberi balasan kecuali apa yang telah kamu kerjakan". AS SAFAAT, 37:39.

"Baginyalah apa yang dia kerjakan dan atasnyalah apa yang dia usahakan". AL BAQARAH, 2:286.

"Sesiapa yang kafir maka dia sendirilah yang menanggung kekafirannya dan sesiapa yang beramal soleh maka untuk diri mereka sendiri". AR RUM, 30:44.

"Sesiapa yang melakukan kejahatan maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan". AL MU'MIN, 40:40.

"Sesiapa beramal secara yang bersesuaian dengan hidayah, sesungguhnya dia telah berbuat untuk dirinya sendiri dan sesiapa yang sesat, kesesatan itu bagi dirinya sendiri. Seseorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain". AL ISRA', 17:15.

"Sesiapa yang membersihkan dirinya maka dia telah membersihkan dirinya sendiri". FATIR, 35:18.

"Hendaklah kamu takut kepada satu hari yang tidak boleh seseorang melepaskan sesuatu apa pun dari seseorang yang lain". AL-BAQARAH, 2:123.

"Pada hari tidak seorang pun teraniaya sedikit juapun dan tidak dibalas pada kamu melainkan apa yang kamu telah kerjakan". YASIN, 36:54.

"Hai manusia! Hendaklah kamu takut kepada satu hari (di akhirat) yang (di dalamnya) tidak boleh seseorang bapa melepaskan (sesuatu apa pun) dari anaknya dan tidak pula anaknya boleh melepaskan sesuatu apa dari ayahnya". LUQMAN, 31:33.

"Sesiapa yang bekerja keras (di dunia) maka tidak lain melainkan untuk dirinya sendiri". AL-ANKABUT, 29:6.

(13). Imam Fakhrurddin ar-Razi bermazhab as-Syafie memberi komentar tentang menghadiahkan pahala amalan kepada orang mati: "Sesungguhnya kebaikan orang lain tidak boleh memberi manfaat kepada orang yang lain kerana sesiapa yang tidak beramal soleh ia tidak akan mendapat kebaikannya. Maka cukuplah dengan ayat ini sudah sempurna dan jelas bahawa orang yang berdosa tidak boleh mendapat ganjaran dengan kebaikan orang lain dan tidak ada orang lain yang boleh menanggung segala dosanya".

Imam at-Tabari yang pakar dalam ilmu tafsir dan fiqh as-Syafie menerangkan: "Bahawasanya tidak akan dibalas seseorang yang beramal melainkan mengikut amalannya, jika baik dibalas baik dan jika buruk akan dibalas buruk". Kerana banyak nas-nas al-Quran yang menjelaskan perkara ini antaranya: "Tiap-tiap jiwa (seseorang) bergantung kepada apa yang telah ia usahakan (semasa hidupnya)". AT-THUR, 52:21.

"Dan sesungguhnya manusia itu tidak akan mendapat melainkan apa yang telah diusahakan". AN-NAJM, 53:39.

"Maka sesiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar debu pasti dia akan melihatnya dan sesiapa yang mengerjakan kejahatan seberat debu pasti dia akan melihatnya".AZ-ZILZAL, 99:7-8.

"Pada hari seseorang itu akan melihat apa yang telah diusahakan oleh kedua tangannya".AN-NABA', 78:41.

Tahlilan, yasinan, menghadiahkan pahala bacaan kepada orang mati dan kenduri arwah sama sekali tidak ada dalilnya, tidak pernah diperintahkan oleh Rasulullah dan para sahabat atau para Salaf as-Soleh tidak pernah melakukannya, oleh yang demikian Imam as-Syafie menghukumnya bid’ah berdasrkan hadis: “Sesiapa yang melakukan sesuatu perbuatan yang bukan dari suruhan kami maka ia tertolak (sia-sia dan bid’ah)”. H/R Ibn Majah.

Jangan Berpegang Dengan Hadis Lemah Dan Batil

Ibnu Umar pernah berwasiat, apabila beliau wafat agar dibacakan di atas kuburnya al-Fatihah dan beberapa ayat terakhir dari surah al-Baqarah. Athar Ibn ‘Umar ini batil, bertentangan dengan amalan para sahabat, lemah dan syaaz, tidak boleh dijadikan hujjah: "Dan apa yang telah diriwayatkan dari Ibn 'Umar bahawasanya beliau mewasiatkan agar dibacakan al-Fatihah dan ayat-ayat terakhir dari surah al-Baqarah di atas kuburnya, maka itu adalah athar yang syaaz (tidak sahih) dan tidak sahih pula sanadnya. Dan tidak pernah dipersetujui (diterima) walaupun oleh seorang sahabat."

Hadis yang menyuruh dibacakan al-Quran kepada orang mati adalah hadis lemah. Di sanadnya terdapat Saad, dikenali sebagai Abu 'Uthman (majhul). Hadis yang dimaksudkan ialah: "Bacakanlah oleh kamu (surah Yasin) ke atas orang yang hampir mati dari kalangan kamu". Hadis lemah.

Menurut hadis sahih, perkara yang sunnah dilakukan kepada orang nazak ialah mengajarkan kalimah tauhid sebagaimana hadis: "Ajarkanlah oleh kamu orang-orang yang nazak di kalangan kamu dengan kalimah: La ilaha illallah".

Antara hujjah mereka yang menghalalkan yasinan, tahlilan dan menghadiahkan pahala bacaan kepada si Mati: "Barangsiapa membaca Qulhuwallahu Ahad seribu kali, sesungguhnya ia telah membebaskan dirinya dari api neraka". (Hadis Palsu).

Mendoakan si Mati adalah sunnah hukumnya bersandarkan kepada ayat-ayat di bawah ini: "Dan orang-orang yang datang sesudah mereka itu akan berkata: Wahai Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman sebelum kami!" AL HASYR, 59:10.

"Ya Tuhan kami, berilah keampunan kepadaku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (Hari Kiamat)!" IBRAHIM, 14:41.

“Dan minta ampunlah bagi dosa-dosamu dan bagi orang-orang yang beriman". MUHAMMAD, 47:19.

Mengkhususkan ibadah dimalam-malam tertentu atau berpuasa dihari-hari tertentu adalah haram dan bid’ah, iaitu berdasarkan hadis dari Abi Hurairah: Janganlah kamu khususkan malam Jumaat untuk melakukan ibadah antara malam-malam yang lain dan janganlah kamu menentukan Hari Jumaat sahaja untuk berpuasa antara hari-hari yang lain, kecuali memang singgah puasa (tidak secara langsung) yang dikerjakan oleh seseorang kamu."

Dari Abu Hurairah: Setiap umatku akan masuk syurga kecuali orang yang enggan. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, siapakah orang yang enggan itu!? Rasulullah menjawab: Sesiapa yang taat kepadaku maka dia masuk syurga dan sesiapa yang durhaka kepadaku maka sesungguhnya dia telah enggan". Allah Subhanahu wa Ta'ala memberi peringatan dengan firman-Nya: “Maka hendaklah diawasi oleh mereka yang menyalahi perintahnya (perintah Allah dan Rasul) bahawa mereka akan ditimpa fitnah atau ditimpa oleh seksa yang pedih". AN NUR, 24:63.

Rasulullah bersabda: "Aku telah tinggalkan pada kamu agama ini dalam keadaan putih bersih. Malamnya seperti siangnya yang tidak ada menyimpang daripadanya setelah (kewafatanku kecuali akan ditimpakan kepadanya) kehancuran".

Imam Syafie berfatwa: “Aku suka kalau jiran si Mati atau saudara mara si Mati menyediakan makanan untuk keluarga si Mati pada hari kematian dan malamnya sehingga mengenyangkan mereka. Sesungguhnya itulah amalan yang sunnah”. Fatwa Imam Syafie ini berdasarkan hadis: “Abdullah bin Ja’far berkata: Ketika tersebar tentang berita terbunuhnya Ja’far, Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam bersabda: Hendaklah kamu menyediakan makanan untuk keluarga Ja’far, mereka telah ditimpa keadaan yang menyebukkan (kesusahan)”. Dihasankan oleh at-Turmizi dan di sahihkan oleh al-Hakim.

Tahukah Uthman El-Muhammady?

Ulama besar dan masyhur Nusantara telah mengharamkan tahlilan, yasinan dan kenduri arwah. Antara mereka:

(14). Syeikh Daud Fatani, Menurut beliau kenduri arwah seperti yasinan, tahlilan dan menghadiahkan palaha kepada orang mati adalah perbuatan yang diharamkan dan dicela, beliau berkata: “Adalah yang tersebut itu makruh yang dicela ditegah oleh syara”. Lihat: Furu’ Al-Masail. Hlm. 182-183. Beliau berkata lagi: “ Makruh lagi bid’ah bagi orang yang kematian memperbuat makanan menyerukan sekalian manusia di hari pertama……”. Lihat: Bugyatu at-Tulllab. Juz 2. Hlm. 33-34.

(15). Muhammad Arsyad al-Banjari telah mengharamkan kenduri arwah (seperti yasinan dan tahlilan). Beliau berkata: “Makroh lagi bid’ah bagi yang kematian membuat makanan yang diserukan (diundang) manusia atau memakannya…….” Ibid.

(16). Ibnu Muhammad al-Fatani. Beliau telah mengharamkan kenduri arwah (termasuk tahlilan dan yasinan) sebagaimana dijelaskan oleh beliau dalam kitab Kasyaf al-Latham ‘an-Asilatil Anam. Juz. 1 hlm. 89.

Uthman El-Muhammady Beranggapan Baik

Oleh kerana yasinan, tahlilan dan kenduri arwah (menghadiahkan pahala bacaan kepada orang mati) tidak terdapat dalilnya dalam syara, maka Uthman El-Muhammady beristihsan (menganggap/bersangka baik) terhadap perbuatan tersebut. Inilah sangkaan yang dianggap mungkar oleh Imam Syafie rahimahullah kerana Imam Syafie berkata: "Sesiapa yang beristihsan (menyangka baik satu-satu amalannya yang direka), bererti dia telah membuat satu syariat (dan sesiapa yang membuat syariat, maka ia sudah kafir)". Lihat: "ar-Risalah"

Jika Uthman El-Muhammady jujur mengajak umat Islam di Malaysia kembali kepada mazhab as-Syafie untuk membolehkan yasinan, tahlilan, kenduri arwah dan membaca al-Quran untuk orang mati, buktikan apakah Wahhbi atau as-Syafie yang mengharamkannya. Diharap beliau mampu membawakan fatwa Imam as-Syafie disamping menunjukkan dalil dari al-Quran dan hadis sahih.

Kebimbangan Uthman Muhammady Tentang Pergeseran Adat Dan Ibadat Yang Di Amalkan Di Negara Ini (Mingguan Malaysia, 27 Nov 2005)

“Ahli Sunnah Wal-Jamaah Mengikut Imam Syafie (Mingguan 27 Nov 2005)

Menurut Uthman Muhammady Fahaman Wahhabi mengambil pendekatan keras,semata-mata memberi penekanan kepada Allah dengan menolak sunnah Rasulullah, tawasul, syafat dan lain-lain. Mingguan 27 Nov 2005.

Sehubungan itu katanya, adalah lebih wajar fahaman ini ditolak kerana ia bertentangan dengan Sunnah Waljamaah yang menjadi ikutan majoriti umat Islam negara ini. (Mingguan 27 Nov 2005)

Artikel Asal Oleh:
Ustaz Abu Farouq Rasul Bin Dahri

Di-Edit Semula Untuk Edisi Online Oleh:
Nawawi (
http://an-nawawi.blospot.com)

Wednesday, June 20, 2007

010 - PENGEBOM BERANI MATI?

Ingin tahu apakah hukum menjadi pengebom berani mati?

Download Kuliah MP3 Ini - Sucide Bomber

Monday, June 18, 2007

00 9 - Download Kuliah Berkenaan Fenomena Puja Kubur & Apakah Adab Sebenar Menziarahi Kubur

Download Kuliah Berkenaan Fenomena Puja Kubur & Apakah Adab Sebenar Menziarahi Kubur

as-Salaamu ‘alaikum…


Di sini ada satu kuliah (dibahagikan kepada dua files) berkenaan tajuk posting yang sebelumnya iaitu berkenaan isu sekitar Kuburi.


Part 1 – Download

Part 2 - Download